Buat Gayus, Hidup Mudah Itu Tidak Mudah Loh !

Baru-baru ini masyarakat dunia maya dihebohkan dengan foto Gayus tengah makan-makan di sebuah resto mewah. Gayus yang seharusnya berada di ruang tahanan karena menggelapkan pajak masyarakat, malah keluyuran. Rasanya belum habis kegeraman masyarakat atas perilakunya yang begitu banyak merugikan masyarakat, tapi dia malah berulah kembali. Entahlah dalam hal ini siapa yang akan disalahkan, aparat penegak hukumkah atau Gayus kah ? Sampai kapan sih fenomena ini berakhir, tidak penting bahwa semua itu nyata atau maya karena sakitnya tuh di sini..

Memang tidak dapat dipungkiri, bila beberapa bulan ini kondisi perekonomian di Negara-negara ASIA termasuk Indonesia mengalami penurunan. Di dalam negri sendiri misalnya, harga bahan pokok melonjak tajam. Harga daging contohnya, sejak Lebaran Iedul Fitri kemarin dan sampai hari ini, belum menunjukkan tanda-tanda penurunan harga. Bahkan saat ini pas perayaan Iedul Adha pun harga daging masih tetap tinggi. Padahal Lebaran Iedul Adha yang dikenal dengan perayaan kurban, sudah barang tentu banjir daging. Kondisi ini saya pantau sendiri di pasar traditional, saat saya ingin menyiapkan menu lebaran.

Miris memang, kita yang hidup di negri berjulukan “Gemah Ripah Loh Jinawi” ini mesti merasai kesulitan ekonomi. Itu baru dari sisi ekonomi, belum dari sisi lainnya. Situasi ini bukan tidak mungkin dapat disalah artikan oleh orang-orang yang memiliki pikiran negative. Dan tidak dapat disalahkan juga jika pada akhirnya timbul aneka ragam problem hidup akibat dari ketidak stabilan ekonomi. Hingga pada puncaknya kondisi ini laksana efek domino, merambat kemana-mana dan saling menyalahkan satu sama lain.

Lebih mirisnya lagi timbul ketidak percayaan pada tampuk pimpinan Negara. Sayangnya masyarakat masih melihat sebelah mata tentang peran Negara untuk mewujudkan keadilan dan pemerataan ekonomi. Hal ini terbukti semua program-program yang diluncurkan oleh Negara diterima dengan setengah hati oleh masyarakat. Lebih dari itu peran Negara dianggap sebagai pencitraan belaka. Keadaan ini juga yang pada akhirnya menjadi penghambat bagi mereka yang ingin mengedukasi sebuah peraturan atau ketetapan Negara. Namun meski bagaimanapun semua amanat itu harus tersampai pada masyarakat apapun penerimaannya.

Perjuangan dalam menyampaikan peraturan Negara ini dialami oleh Zeti Arina, seorang Konsultan Pajak. Sebelum mengedukasi masyarakat dalam hal ini para pegawai di mana gajinya harus dipotong pajak, Zeti Arina terlebih dulu melakukan pendekatan. Ya, tentu saja pendekatannya berupa saran untuk bisa hidup lebih mudah. Sebagaimana judul yang saya angkat di atas, bahwa hidup mudah itu memang tidak mudah. Akan tetapi sebagai manusia yang diberikan akal pikiran oleh Sang Pencipta, rasanya akan menjadi sia-sia jika akal dan pikirannya tidak dipergunakan. Allah menginginkan tiap hambaNya berusaha dengan akal dan pikirannya, bukan berkeluh kesah berkepanjangan. Keluh kesah itu juga merupakan bagian kecil dari rasa putus asa.

zeti

Jadi, dalam pendekatan tersebut Zeti Arina selalu menekankan bagaimana caranya agar bisa hidup lebih mudah. Salah satu kiatnya adalah dengan menjalani hidup sederhana. Hidup sederhana alias tidak neko-neko bisa menyelamatkan masa depan loh. Apalagi dengan pekerja yang gajinya pas-pasan, dan harus dipotong pajak pula. Lebih lanjut Zeti Arina menjelaskan, bahwa tahun 2015 ini Pemerintah melalui Peraturan menteri Keuangan Nomer 122/PMK.010/2015 mengeluarkan peraturan tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak tanggal 29 Juni 2015.

Peraturannya yaitu menaikkan batasan Penghasilan Tidak Kena Pajak ( PTKP ) menjadi Rp 36 juta bagi wajib pajak dengan status tidak kawin tanpa tanggungan. Sehingga kalau kawin dan memiliki anak 3 maka PTKP nya menjadi 48 juta setahun. Hadeuh, apa pula ini yak ! Jadi maksudnya gimana sih ?

Jadi gini, melihat kondisi ekonomi saat ini Pemerintah berinisiatif untuk menaikkan PTKP. Kata “menaikkan” PTKP itu memiliki arti sebaliknya, yaitu pekerja yang gajinya dipotong pajak maka pemotongannya menjadi lebih kecil. Misalnya gini, Si A yang gajinya Rp. 3 juta dipotong pajak sebesar Rp. 300.000 per bulan. Tapi dengan peraturan baru gaji Si A akan dipotong sebesar Rp. 100.000. Jadi gaji yang diterima oleh Si A akan lebih besar, maksudnya tentu saja agar Si A bisa memenuhi kebutuhan ekonomi yang melonjak.

Harapan Pemerintah lainnya adalah agar daya beli masyarakat terus bergairah dan mendorong semangat pekerja. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan pajak yang sudah terlanjur dipotong sebelumnya mengingat PMK baru dikeluarkan tanggal 29 Juni dan berlaku surut?

Lebih lanjut Zeti Arina mengatakan,“Atas pajak yang sudah terlanjur dipotong sebelumnya yaitu bulan Januari sampai dengan bulan Juni akan dihitung ulang oleh perusahaan tempat bekerja. Sedangkan kelebihan potongannya akan dikompensasikan mulai bulan Juli sehingga bisa saja bulan Juli tidak dipotong pajak karena sudah ada kelebihan potong di bulan sebelumnya”. Begitulah kira-kira pemahaman tentang kenaikkan PTKP yang sudah digulirkan oleh Pemerintah bulan Juni 2015 kemarin. Nah, bagi Anda yang ingin bertanya-tanya seputar pajak, Anda bisa colek langsung Zeti Arina di facebooknya. Tapi asal jangan tanya soal Gayus ya, kalau itu sih tanya aja langsung sama aparat hukum.

Leave a Reply

2 Comments on "Buat Gayus, Hidup Mudah Itu Tidak Mudah Loh !"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
echaimutenan
Guest

btw pakde kartono itu gayus bukan mba

wpDiscuz