Honestbee Ciptakan Gaya Wisata Belanja Asyik Dan Mudah

Alhamdulilah akhirnya sampe juga ke tempat acara, setelah berjibaku di kereta api dan nyaris pingsan. Ya, ini adalah pertama kalinya saya datang ke acara dengan transportasi kereta api. Itu pun harus janjian dengan teman seprofesi nan cantik jelita, Lita Chan Lai di stasiun Tanah Abang. Thank’s a lot Lita, do’aku semoga cepet dapet pendamping yang bertanggung jawab ya. Amiin.

Kali ini saya akan menghadiri acara Wisata Belanja. Wuih…enak banget, maksudnya wisata sambil belanja gitu? Terus terang saya sendiri belum kebayang acaranya kayak apa. Sedari awal saya ingin datang ke acara ini, karena mau liat acara demo masak. Tau nggak kenapa saya ngebet banget pengen liat demo masak? Soalnya ada chef keren dan ganteng, konon dia itu foundernya @resepdapurayah. Itu loh yang Instagramnya selalu saya kepoin, nggak kuat sama postingan kulinernya. Selain bisa ketemu langsung dengan sang chef pasti ada ilmu masak juga. Cerita soal chef keren dan ganteng ini nggak aka nada habisnya, Insha Allah akan saya posting di lain waktu ya.

Sampai di tempat acara sudah banyak teman-teman yang datang. Seperti biasa setelah melalui meja register, saya langsung diarahkan oleh mbak panitia untuk mengambil snack. Lalu, saling bersapa dengan teman yang mayoritas sudah saya kenal. Sambil menunggu acara dimulai saya mencari angle yang lucuk dan unik buat poto-poto. Hampir tiga puluh menit berlalu, rasa penasaran pun mulai menghinggapi saya.

Register ( dok. @kriyaindonesia )

Kapan sih acara wisata belanjanya dimulai? Akhirnya saya coba bertanya dengan teman yang lain. Ternyata…oh ternyata…! Wisata belanjanya itu dengan menggunakan aplikasi yang baru saja diluncurkan, tepatnya tanggal 25 Januari 2017 lalu. Nama aplikasinya Honestbee dengan logo lebah kuning. Kalau mau tanya-tanya dulu juga boleh sama Kaka yang memakai kaos berwarna kuning ada logo lebahnya.

Jadi belanjanya tuh nggak kemana-mana cukup dari smartphone aja. Tanpa ragu-ragu saya menghampiri kaka berkaos kuning dan menanyakan beberapa hal. Dengan antusias dan penuh semangat si kaka menjelaskan tentang Honestbee.

“Dah donlot belom Bu,”pertanyaan pertama dari Kaka. Kalau sudah langsung register aja. Saya langsung melakukan apa yang diminta oleh Kaka. “Sudah nih,”kataku. Setelah ke dua proses tadi selesai, saya lalu dipandu untuk belanja di merchant yang sudah berafiliasi dengan Honestbee. Kebetulan banget merchant langganan belanja saya tiap bulan sudah berafiliasi. Sayangnya sebelum saya selesai belanja, acara sudah akan dimulai. Saya pun menutup aplikasi Honestbee dan akan melanjutkannya di rumah. Ternyata yang namanya wisata itu mengasyikkan ya, termasuk wisata ke museum. Jadi mari kita hentikan dulu wisata belanjanya dan kita wisata ke tempat yang lain.

Di tengah riuhnya suara undangan, dari mikropon terdengar suara memanggil para undangan agar tertib. Seseorang itu bukan siapa-siapa, saya mengenalnya dengan baik. Mba Astri namanya, orangnya humble dan daya kreatifitasnya tinggi. Salah satu contohnya aja acara yang sedang berlangsung saat ini. Semua atas ide Mba Astri dengan, kata lain Mba Astri lah di balik kesuksesan acara ini.

Ki-ka : Mba Astri, Ibu Misari, Fanny ( dok. @kriyaindonesia )

Setelah Mba Astri menyampaikan sepatah dua patah kata, kesempatan berikutnya diberikan kepada perwakilan dari pihak museum. Dalam kesempatan ini, Ibu Misari—penanggung jawab museum mengatakan senang dengan kedatangan para blogger ke museum ini. Dengan begitu, informasi tentang museum akan tersebar dan banyak lagi orang yang datang. Nampak sekali kalau Ibu Misari merasa terharu melihat kontribusi dari blogger demi menyebarkan informasi tentang museum.

Wisata Belanja di Museum Tekstil Jakarta

Mayoritas perempuan, terutama Ibuk-ibuk pasti akan loncat kegirangan jika mendengar kata ‘wisata belanja’. Pastinya yang ada dalam kepala adalah berwisata sambil belanja segala kebutuhan. Coba aja liat kalau Ibuk-ibuk habis pergi piknik, pas pulang pasti tentengan alias bawaannya nambah. Padahal secara matematika nggak begitu, berangkat berat pulang enteng. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, berangkat berat pulang tambah berat.

Duh…!

Sayangnya tidak semua wisata disukai oleh Ibuk-ibuk, contohnya aja wisata museum khususnya Museum Tekstil Jakarta.  Itu pula yang terjadi pada saya. Bisa dihitung deh lebih banyak mana belanja ke Tanah Abang atau ke Museum Tekstil. Pasti lebih banyak belanja ke Tanah Abangnya. Padahal Museum Tekstil ini letaknya di depan Pasar Tanah Abang tapi tidak dilirik sedikitpun oleh saya. Jujur aja ya, saya sendiri baru pertama kali datang ke Museum Tekstil itupun karena ada iming-iming ‘wisata belanja’ dan ‘demo masak’ nya. *alamaaaakkk tepok jidat

Museum tekstil Jakarta ( dok pri )

Sejarah Singkat Museum Tekstil Jakarta

Beralamat di Jl. KS. Tubun No. 2-4, Jakarta Barat Museum Tekstil Jakarta ini dibangun pada akhir abad ke – 19. Sebelum beralih fungsi menjadi Museum Tekstil, awalnya merupakan rumah tinggal warga berkebangsaan Perancis. Kemudian melalui proses jual beli, berpindah kepemilikan menjadi milik Konsul Turki bernama Abdul Aziz Al Mussawi Al Katiri.

Pada tahun 1924 berpindah tangan lagi, kali ini dibeli oleh warga Belanda DR. Karel Christian Cruq. Tahun 1945, di mana sejarah mencatatnya sebagai masa perang kemerdekaan, Gedung Museum Tekstil digunakan sebagai markas Pemuda Barisan Pelopor dan Barisan Keamanan Rakyat ( BKR ).

Dua tahun kemudian tepatnya tahun 1947, salah seorang warga keturunan Tiongkok bernama Lie Sion Pin membeli gedung ini, akan tetapi lima tahun berikutnya dibeli lagi oleh Departemen Sosial RI. Hingga pada tahun 1976 kepemilikannya diserahkan kepada Pemda DKI dan diperuntukkan sebagai Museum Tekstil Jakarta, sampai sekarang. Dan pada tahun yang sama, tepatnya tanggal 28 Juni, Museum Tekstil Jakarta diresmikan oleh Ibu Tien Soeharto.

Dengan mengemban visi sebagai salah satu tujuan wisata edukasi pertekstilan bagi masyarakat umum, Museum Tekstil Jakarta terus menambah koleksi tekstilnya. Saat ini Museum Tekstil Jakarta berada di bawah pengelolaan UP, Museum Seni Rupa Jakarta, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.

Perkenalan sejarah tentang berdirinya Museum Tekstil yang disampaikan oleh Ibu Misari selesai.  Secara simbolis beliau mempersilakan para blogger untuk masuk ke dalam museum dan melihat koleksinya.

Koleksi lainnya dalam lemari kaca ( dok.pri )

Pada tanggal 2 Oktober 2010, galeri batik resmi dibuka dengan menempati ruang pameran tetap. Keberadaan galeri ini sebagai apresiasi masyarakat terhadap batik Indonesia. Galeri batik ini dikelola langsung oleh Yayasan Batik Indonesia. Berbagai macam batik yang berasal dari seluruh Nusantara terpajang di sini. Sebut sja ada batik Sumatera, Jawa Barat, Cirebon dan lainnya.

Kain panjang terawat ( dok.pri )

Adalah Fanny, seorang warga berkebangsaan Italy yang juga menjadi relawan budaya dengan piawai menerangkan koleksi batik yang ada di situ. Ada sekitar 2.350 koleksi batik yang terpajang di situ, kebanyakan koleksinya berupa kain batik yaitu sekitar 886 lembar. Selain kain batik ada juga koleksi berupa peralatan, busana dan tekstil kontemporer. Selain itu masih ada lagi berupa bahan pewarna batik alami, motif-motif cap batik, tata cara membatik dan berbagai macam interior yang bermotif batik.

Blogger sangat antusias mendengarkan paparan dari guide

Fanny terus menerangkan pada blogger tentang riwayat batik yang terpajang di situ. Semua koleksi batik terawat dengan baik dan rata-rata tersimpan dalam lemari kaca. Sedangkan batik yang sudah jadi busana ada juga yang langsung dipakai di manekein. Ruangan pameran yang tak begitu luas ini memiliki banyak goresan cerita tentang batik.

Teman blogger Leyla Hana dengan koleksi Museum Tekstil ( dok.pri )

Jauh di dalam lubuk hati saya merasa pilu, bagaimana mungkin seorang Fanny yang berkebangsaan asing bisa dengan fasih menjelaskan batik dengan detail. Sedangkan kami pemilik asli batik hanya bisa manggut-manggut dan mengiyakan saja. Sebuah realita tentang budaya yang perlu mendapat perhatian tambah dari pemilik asli. Sadarkah kita bahwa batik pernah diklaim oleh bangsa lain menjadi miliknya. Di sini nurani saya tertantang untuk segera lebih mengenalkan batik kepada masyarakat luas. Thank’s Fanny!

Selesai mengeksplor museum yang mengoleksi aneka ragam batik, acara belum usai. Tapi sebagai acara pamungkas kami akan menyaksikan demo masak oleh Chef Jun Juno. Pemilik akun instagram @resepdapurayah ini akan menyajikan dua macam menu, Ayam Rica-rica dan Puding Gula Merah. Demo yang dilaksanakan di bagian belakang museum ini membuat antusias blogger. Bukan apa-apa, ini adalah kali pertama Chef Jun tampil di hadapan blogger setelah sekian lama dinanti.

Bahan-bahan Ayam Rica-rica ( dok. Kang Dudi )

Hanya butuh waktu kurang dari dua jam, acara masak pun selesai. Sambil icip-icip masakan yang didemokan kami menyantap makan siang. Sungguh sebuah acara yang sarat dengan ilmu, budaya dan tentu saja kebersamaan. Waktu beranjak siang, dengan menumpang di mobil salah satu teman blogger dari Bekasi, saya pun pulang dengan hati riang dan sejuta cerita.

Chef Jun founder IG @resepdapurayah ( dok. Syaifudin Sayuti )

Di rumah, keesokan harinya saya masih punya tugas untuk menuntaskan belanja yang tertunda di Museum Tekstil kemarin. Kebetulan pas tanggal muda, jadi memangsudah waktunya belanja segala keperluan. Nah, sekarang saatnya saya mengeksplor aplikasi Honestbee untuk belanja bulanan. Saya akan membuktikan sendiri kemudahan belanja dengan menggunakan aplikasi ini. Sebelum saya kasih testimoninya, saya mau kasih tau dulu step by step nya ya…

Pertama-tama buka aplikasi Honestbee yang sudah kita donlot, lalu lanjutkan dengan register. Soal register ini mudah ko sama aja seperti kalau kita register di online shop lain.

Setelah itu kita akan dihadapkan pada merchant atau toko yang sudah berafiliasi dengan Honestbee. Sampai saat ini hanya ada empat merchant yang sudah berafiliasi. Pilih merchant, kalau saya  memilih Transmart Carefour.

Mulai belanja kebutuhan bulanan,  seperti mie instant, cemilan, obat gosok dan pewangi pakaian. Untuk sementara hanya itu dulu yang saya belanjakan. Semua produk yang kita pilih otomatis masuk ke dalam chart atau troli.

Langkah berikutnya klik alamat pengiriman, lalu isi deh alamat lengkap rumah kita.

Kemudian pilih cara pembayaran, saat ini Honestbee baru menerima dua sistem pembayaran dengan kartu kredit atau kes. Jadi pas barang diantar ke rumah, langsung dibayar. Dalam aplikasi kita juga diminta untuk memilih jam pengantaran barang.

Setelah semua sudah terisi, tunggu sampai ada pemberitahuan kalau belanjaan sudah diterima dengan baik. Jika sukses, beberapa saat kemudian pihak Honestbee akan mengkonfirmasi dengan menghubungi langsung via telepon. Apabila semua sudah selesai tunggu berdasarkan waktu kirim yang sudah kita pilih pada aplikasi.

Dan barang belanjaan pun tiba di rumah dengan selamat tanpa harus kena macet dan segala rintangan lainnya.

Gimana??? Gampang kaaaan, bukan cuma gampang tapi Honestbee menjadi solusi belanja mudah dan asyik. Apalagi di saat musim hujan kek sekarang ini, rasanya ko mager alias males gerak. Untung aja ada Honestbee sebagai solusi belanja. Setelah saya pikir-pikir, banyak banget keuntungan belanja di Honestbee, salah satunya terhindar dari godaan belanja yang nggak dibutuhkan.

Sebagai pendatang baru di dunia startup, mustahil jika Honestbee nggak punya kekurangan. Menurut saya sih atau lebih tepatnya saran saya perbanyak lagi merchant-merchantnya. Dengan mengusung belanja mudah kapan saja dan di mana saja, maka ciptakanlah suasana belanja yang mendukung. Sebagai contoh, ada suara musik pada aplikasi supaya customer nggak bosen. Nah, saya sudah coba belanja di Honestbee bagaimana dengan kamu? Coba yuuukkk…

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz