Imlek, Tradisi Luhur Yang Sarat Akan Petuah


“Waaahhh…seneng banget mbak kalau pas Imlek. Pokoknya ga ada sedihnya deh,”tulis teman saya lewat messenger, saat saya tanya tentang perayaan Imlek kemarin.

“Ceritain dong detilnya, waktu kamu merayakan Imlek,”pintaku lagi.

Lalu dengan senang hati ia pun menceritakan tradisi Imlek yang sarat petuah itu. Saya memang tidak merayakan Imlek, tapi setiap kali perayaan Imlek tiba, saya selalu mendapat kiriman dodol Cina. Eh…katanya sudah nggak boleh lagi nyebut Cina tapi Tiongkok, tapi ko rasanya aneh ya kalau nyebutnya jadi dodol Tiongkok. Saya suka banget sama dodol Tiongkok ini, manisnya sedang dan lengketnya pulen. Apalagi kalau digoreng dibalut pake telur, wah…tambah enak ! Oh ya, teman saya itu memulai ceritanya dari makanan yang wajib ada saat Imlek. Saya mulai dari dodol Tiongkok dulu yaaaa…

Ternyata dodol Tiongkok kegemaran saya itu bukan cuma rasanya aja yang enak tapi memiliki petuah hidup juga. Menurut teman saya, dodol itu merupakan salah satu makanan yang wajib ada. Maknanya yaitu agar hubungan kekeluargaan mereka semakin lengket seperti dodol. Hmmm…ada benernya juga sih,”pikirku.

“Oke…mbak saya lanjutkan cerita Imlek saya yang kemarin ya. Setelah rapi kami berkunjung ke rumah kerabat yang dituakan. Kita semua berkumpul di situ, makan bareng, saling memberi ucapan dan do’a. Saat makan bersama itu ada aneka lauknya, yang paling khas pindang bandeng. Jenis masakan yang dihidangkan harus berjumlah genap, misalnya 4, 6, 8 macam. Cuma saya nggak tau mbak maksudnya apa”.

Simbol dari masakan ikan bandeng ini adalah kemakmuran. Kata “ikan” dalam logat Mandarin sama dengan kata “Yu” yang berarti rezeki. Nah, kenapa harus ikan bandeng bukan ikan-ikan yang lain. Kayaknya semua tau deh kalau ikan bandeng tuh banyak durinya. Bagi leluhur masyarakat Tionghoa duri pada bandeng itu merupakan rumitnya kehidupan. Jadi kalau makan ikan bandeng harus hati-hati, begitu pula dengan kehidupan. Sebagai manusia harus hati-hati dalam menjalani kehidupan, waspada.

“Trus apalagi yang dipersiapkan untuk menyambut Imlek,”tanyaku lagi.

“Banyak sih mbak, beres-beres rumah dan mempercantik diri. Seperti potong rambut dan memakai baju baru. Warna bajunya lebih diutamakan berwarna merah atau cerah. Nggak boleh pake baju berwarna abu-abu apalagi hitam,”cerita temanku.

“Emang filosofinya apa sih ko harus pake baju warna merah,”kataku penasaran.

“Sebenarnya bukan baju aja mbak yang berwarna merah tapi dekorasi rumah dan pernak pernik deh semua harus merah,”tulis temanku mejelaskan.

“Oooohhh…gitu ya,”balasku.

“Warna merah itu ada ceritanya juga mbak.

“Ya…udah ceritain dong, nggak usah panjang-panjang, singkat aja,”pintaku.

“Menurut kepercayaan kami, dulu ada sejenis mahluk raksasa yang akan keluar pada saat tahun baru Imlek. Mahluknya seperti ular naga, kayak barongsailah mbak. Nama mahluk itu Nian, kedatangannya mau mengganggu manusia, terutama anak kecil. Tanpa disengaja, ada anak kecil yang memakai baju warna merah dan ternyata Nian takut sama anak kecil itu. Dari situlah akhirnya diyakini kalau warna merah bisa digunakan untuk mengusir Nian tadi,”gitu mbak ceritanya.

“Itukan tentang petuah yang ada dalam makanan. Kemarin pas malam Imlek ada sembahyangnya nggak ?”kataku semakin penasaran.

“Saya sudah menjadi Katholik…mbak, bukan kepercayaan lagi. Jadi saya memang tidak ke kuil atau vihara. Tapi dari keluarga saya, ada ko yang masih ke kuil atau vihara. Mereka adalah para leluhur yang masih menganut kepercayaan. Bahkan mereka juga masih menyiapkan sesaji bagi para arwah yang sudah lebih dulu meninggalkan kami. Leluhur saya masih ada beberapa yang masih hidup, mereka juga menyalakan hio besar di depan pintu rumah. Makanan dan jenis buah-buahan terutama jeruk juga disajikan”.

“Oh…ya mbak, masih ada lagi nih ritual yang selalu ditunggu-tunggu tiap Imlek. Bagi-bagi angpao atau uang yang sudah dimasukkan ke dalam amplop warna merah. Untuk ritual ini juga ada aturannya, yaitu yang memberi angpao harus sudah menikah dan sebaliknya. Kayaknya ini acara yang paling seru deh, mbak,”cerita temanku itu.

Akhirnya sayapun mengucapkan terimakasih karena dia mau berbagi cerita tentang perayaan Imlek. Pas menjelang malam Imlek lalu, saya mengunjungi sebuah mal. Mal yang megah itu benar-benar tertata apik untuk menyambut perayaan Imlek. Saat berkeliling mata saya tertumbu pada jejeran bunga-bunga segar nan cantik. Dari jejeran bunga tersebut saya melihat juga ada bunga sakura atau mehwa tapi berupa artificial.

backgroun imlek

Bunga mehwa ini memang menjadi salah satu hiasan rumah dalam perayaan Imlek, mungkin semacam pohon natal di hari Natal. Selain cantik, bunga mehwa ini juga memiliki petuah dan sejarah tersendiri. Konon menjelang perayaan Imlek, kepercayaan masyarakat Tionghoa selalu disertai dengan turun hujan. Selain karena memang pas musim penghujan, legendanya bunga mehwa yang berwarna merah muda ini biasanya akan mekar pada saat perayaan Imlek. Dalam kepercayaan Budha, bunga mehwa mekar hanya setahun sekali. Dan saat bersamaan, bunga mehwa yang mekar itu disirami oleh Dewi Kwan Im, Dewa yang dipercaya memberi perlindungan dan keberkahan.

mehwa

Nah, hujan yang tercurah itulah diyakini sebagai air yang jatuh karena Dewi Kwan Im sedang menyirami bunga mehwa. Bersamaan dengan itu pula, tiap perayaan Imlek jika turun hujan berarti segala rezeki akan tercurah sepanjang tahun.

Selesai berkagum-kagum dengan bunga jenis anggrek yang menawan dan bunga mehwa, saya kembali berkeliling. Kali ini saya akan menyaksikan atraksi Barongsai, yang akan digelar oleh mal ini. Beruntung saat saya tiba di arena, pertunjukkan belum dimulai. Namun begitu saya sudah melihat orang berkerumun hendak menyaksikan atraksi Barongsai. Barongsai merupakan kesenian tradisional Tiongkok. Biasanya para penari ditutupi dengan baju atau sarung yang menyerupai singa.

anggrek

Masyarakat Tionghoa meyakini Barongsai sebagai symbol pembawa kesuksesan dan keberuntungan. Oleh karenanya, pertunjukkan Barongsai diadakan pada acara perayaan seperti Imlek dan acara seremoni seperti pembukaan tempat usaha baru.

Menurut saya, setelah mendapat cerita dari teman, secara garis besar perayaan Imlek tidak jauh beda dengan perayaan Lebaran yang saya rayakan tiap 1 Syawal di tahun Hijriah. Mulai dari persiapannya dan waktu kedatangannya. Ada silaturahmi yang terjalin antar keluarga dan saling memaafkan satu sama lain. Sedangkan untuk urusan makanan, baju dan tetek bengek lainnya hanya sebagai penggembira saja.

Hanya sedikit saja perbedaannya, Imlek menjadi perayaan yang sarat akan petuah hidup. Semua yang tersaji memiliki filosofi tersendiri dalam mengarungi perjalanan hidup. Dengan begitu, sudah sepantasnya tradisi Imlek ini terus dipertahankan oleh anak cucu keturunan Tionghoa. Mereka lebih berkompeten dalam hal ini, saking banyaknya sisi positif yang timbul. Harapan saya terhadap masyarakat Tionghoa tetaplah mempertahankan perayaan Imlek ini dan patuhlah pada tiap petuah yang sudah digariskan oleh para leluhur.

Leave a Reply

8 Comments on "Imlek, Tradisi Luhur Yang Sarat Akan Petuah"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Oline
Guest

Imlek emang identik dengan Barongsai ya..

Ety Budiharjo
Guest

Iyaaa Olie makasih dah mampir…

Donna Imelda
Guest

Terimakasih sudah berpartisipasi, good luck!

Salman Faris
Guest

petuahnya memang sangat masuk di hati ya Mba 😀

Dedew (@dewirieka)
Guest

Alhamdulillah ya sekarang masyarakat tionghoa bisa bebas merayakan imlek

wpDiscuz