Jalan-jalan

Ini Dia Destinasi Digital di Jakarta Yang Pernah Saya Kunjungi

“Mbak…mau ikut nggak?”tanya Lita pada sebuah kesempatan.

“Kemana?”tanyaku balik.

“Ke Hutan Mangrove PIK,”jawabnya singkat.

“Hah…hutan?”pekik ku kaget.

Yup, mendengar kata hutan, tiba-tiba saja badan ku begidik. Bagaimana tidak, hutan itu kan nyeremin banyak binatang buas. Atau paling nggak, pasti ada binatang melatanya. Hiiiiiiyyyy….. Saya pun menggeleng.

“Mbak, hutan mangrove itu aman ko. Jangan bayangin yang nggak-nggak lah. Paling juga cuma ada nyamuk doang,”jelas Lita panjang lebar.

Dan, setelah pikir-pikir saya mengangguk. Menyetujui ajakan Lita, pemilik akun Instagram @petualangcantik itu menyeringai dengan deretan giginya yang putih. Lalu, kami rundingkan waktu dan tempat ketemuan. Ya, karena rumah Lita dan saya beda wilayah, kami harus menentukan tempat ketemu atau meeting point. Kami sepakat akan ketemu di halte Trans Jakarta Monas koridor 1 ( Jurusan Blok M – Kota ).

Dua hari kemudian, kami bertemu jam 10 pagi. Hehehe…Lita agak telat 15 menit, katanya sih keretanya agak lama. Its oke lah…masih dimaklumi.

Dari halte Monas kami  menunggu Trans Jakarta atau Busway jurusan Monas – PIK. Sepuluh menit kemudian, bus akhirnya datang. Hanya beberapa menit bus berhenti mengambil penumpang, kemudian melaju. Inilah Jakarta, jam berapapun moda transportasi kebanggaan Jakarta ini selalu penuh. Setelah melewati beberapa halte seperti Kota, Penjaringan dan Pluit akhirnya sampai juga  di halte PIK. Lama perjalanan dari halte Monas – PIK sekitar 1,5 jam. Hmmm…kalau berdiri lumayan pegel juga yah.

Welfie di busway Lita ( kiri ) Saya ( kanan )

Yup, saya selalu browsing lebih dulu jika ingin pergi ke suatu tempat  yang belum pernah saya kunjungi. Jadi meskipun saya sudah tahu harus turun di mana, saya tetep bertanya pada petugas. Maksudnya supaya lebih yakin lagi dan nggak salah. Saya juga pasang telinga untuk mendengarkan pengeras suara yang memberitahukan halte pemberhentian berikutnya.

Sampai di halte PIK kami turun. Persis di depan bangunan  megah,  mirip istana negri China. Setelah beberapa langkah saya bertanya pada security. Ternyata gedung itu milik Yayasan Budha Indonesia Tzu Chi. Sedangkan di sebelah lagi sekolah khusus buat penganut agama Budha.

Gedung Yayasan Budha Tzu Chi
Narsis di depan Gedung Sekolah Budha

Dari situ kami terus berjalan kaki ke arah belakang gedung kurang lebih 500 meter. Hingga sampailah di depan pintu gerbang Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk.

Lita narsis di depan pintu gerbang

taman wisata alam Hutan Mangrove

Sebelum masuk, kami membeli tiket dulu. Harga tiketnya juga cukup aman di kantong hanya 25 ribu saja per orang. Sebenarnya harga tiketnya 20 ribu, yang 5 ribu untuk biaya retribusi kebersihan. Tiket lebih mahal dikenakan pada wisatawan asing, sekitar  250 ribu. Waaahh…mahalnya sepuluh kali lipat yak.

Tiket masuk

Selanjutnya, dimulailah perjalanan menyusuri hutan mangrove. Perjalanan ada dua jalur ke kiri atau ke kanan tapi sama saja. Kami memilih jalur ke kanan. Kebetulan di jalur kanan ada kantin yang menjual minuman. Kami mampir sebentar untuk membeli air mineral. Diiringi angin sepoi-sepoi, saya dan Lita terus menyusuri jalan. Sambil terus berjalan sesekali berhenti untuk mengambil foto yang sekiranya unik seperti motor boat dan kano yang sedang bersandar.

Motor boat sedang bersandar

Hutan Mangrove PIK atau Taman Wisata Alam ( TWA Angke ) dua tahun belakangan ini cukup viral di media sosial. Waktu saya tanya ke Lita tahu dari mana ada wisata mangrove, dia bilang lihat postingan orang di instagram. Pohon bakau menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Kawasan hutan mangrove memiliki luas sekitar 99 hektar, di mana sekitar 40 persen lahannya digunakan untuk konservasi hutan bakau yang asri dan alami. Sebenarnya daya tarik dari wisata ini bukan hanya pada hutan bakaunya saja. Akan tetapi lebih dari itu, yaitu banyak spot cantik buat foto-foto. Kelebihan lainnya, spot di sini semuanya mengandung unsur alam.

Lita rehat sejenak

Tak lama berjalan, kami menemukan spot cantik untuk berfoto. Mulailah kami jeprat jepret dengan menggunakan smartphone. Spot berupa jembatan gantung ini, bisa buat uji nyali juga. Pasalnya kalau ada yang berjalan maka jembatanpun bergoyang-goyang. Terus terang saya sempet ngeri lho.

Welfie di jembatan gantung

Asyiknya lagi, jalan menyusuri perairan rawa ini terbuat dari bambu, papan dan kayu gelondongan. Malahan salah satu jalan yang terbuat dari papan bisa dijadikan foto juga. Nggak percaya? Nih buktinya Lita merasa hepi banget duduk di jalan papan seperti ini.  Kalau saya sih cukup bersandar saja pada pegangannya. Hehehe…ngeri kecebur juga euy, secara ini rawa habitat buaya.

Lita bak model ngehitz
Kalau nggak pegangan gemeteran

Oh ya, ada peraturan bagi pengunjung yang ke sini. Kalau membawa kamera DSLR akan dikenakan biaya sebesar 1 juta sampai 1,5 juta rupiah. Tapi kalau hanya smartphone tidak ada biaya tambahan.

Jujur saja, saya tercengang dengan  wisata hutan mangrove ini. Jauh banget dari yang saya bayangkan sebelumnya, saya jadi betah di sini. Hehehe…jadi pengen malu sama Lita.

Baca juga yuk destinasi wisata di Bandung  yang instagramable

Narsis di jembatan goyang ngeriiiii

Hutan mangrove bisa menjadi pilihan wisata alam bagi sebagian besar masyarakat Jakarta. Di mana setiap harinya masyarakat  sudah bosan dengan suasana mall dan riuhnya kota.   Pengunjung akan dimanjakan oleh pemandangan hijau daun bakau dan laut nan jauh di sana.

Welfie di jembatan papan
Hutan bakau

Bukan itu saja, pengunjung juga bisa memuaskan diri dengan foto-foto lalu mempostingnya ke media sosial. Bahkan, tempat ini juga seringkali dijadikan  foto prewedding. Dan, siang ini mayoritas yang datang memang berasal dari kaum milenial. Tidak cukup dengan foto-foto, di sini ada beberapa aktivitas yang ditawarkan. Salah satunya adalah menyusuri sungai dengan naik perahu yang tersedia dan berbayar tentunya.

Perahu menunggu penumpang

Masih ada lagi, pengunjung bisa belajar cara menanam mangrove. Dengan membayar sekitar 150 ribu per orang. Pengunjung diajarkan cara menanam mangrove dengan terjun langsung ke rawa-rawa. Sayang waktu saya datang nggak ada aktivitas menanam mangrove. Mengasyikkan bukan?

Area buat menananm mangrove

Oh ya, di sini ada tempat penginapan juga lho. Gedung pertemuan, bahkan area buat kemping. Menurut saya  tempat wisata ini cukup lengkap, pengelolanya benar-benar sangat jeli melihat peluang.

Penginapan

Perjalanan menyusuri hutan mangrove ini memang sangat melelahkan. Tapi keindahan, aroma air rawa dan spot foto yang cantik membayar semua itu. Bahkan beberapa foto sudah saya share di instagram dan sudah ada yang ngelike berkomen juga.

Share instagram

Setelah puas mengeksplor dan foto-foto, perut kami mulai keroncongan.  Tidak ada resto atau kantin di tengah hutan. Jadi, kami harus kembali ke tempat awal untuk makan dan sholat. Setelah itu kami tidak kembali masuk tapi langsung pulang.

Jalan bambu

Perlu diketahui , pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan. Mungkin maksudnya supaya tidak membuang sampah di sekitar hutan. Habit wisatawan Indonesia yang harus diubah, karena jika hutan mangrove ini lestari maka kita juga yang untung. Bukankah begitu?

Museum MOJA

Seminggu lalu, saat  saya sedang asyik stalking di instagram melintas  foto dari seorang teman. Dalam foto itu dia sedang mandi bola ala bocah. Bola yang saya tahu terbuat dari plastik itu didominasi warna kuning dan putih. Penasaran, saya langsung buka tempat yang kebetulan di-tag nya.

Akhirnya saya merasakan juga mandi bola ala bocah

Pas saya stalking ke instagramnya, ternyata tempat yang dimaksud adalah sebuah museum kekinian. Museum MOJA namanya. Dan yang paling bikin saya girang, museum MOJA letaknya deket dari rumah. Seperti biasa, saya langsung japri Lita buat ke situ. Sayangnya kali ini Lita nggak bisa ikut katanya sih lagi banyak kerjaan. Oke, nggak apa-apa lah saya pergi sendiri.  Setelah memesan ojek online saya tiba di museum kurang dari 30 menit.

Dari luar, penampakkannya seperti rumah mewah, karena memang berada di komplek perumahan elite Pondok Indah. Saya disambut dengan ramah oleh pria berkemeja batik. Lalu, diarahkan untuk menaiki tangga ke lantai dua. Sampai di lantai dua saya langsung ke loket  beli tiket. Harga tiket masuk untuk hari biasa 100 K dewasa dan 90 K anak-anak. Sedangkan pada hari libur 125 K dewasa dan 100 K anak-anak.

Di antara jellybean raksasa

Maka dimulailah petualangan di museum MOJA, yang menghadirkan konsep Cinema. Hmmm…seperti apa sih konsep Cinema yang diusung oleh museum MOJA?

Kita lanjut yuk…

Ruang pertama terdiri dari untaian pita warna-warni. Kita bisa mengeksplor sesuka hati, buat saya ini menarik dan lucuk. Saya langsung mengeluarkan smartphone nggak sabar mau selfie. Waktu saya tanya pada salah seorang staff, mereka mengatakan ada 14 spot untuk foto. Buat museum baru, ini terbilang banyak. Saya sendiri sempet mikir, lumayanlah punya stok foto buat posting di instagram.

Ruangan dengan pita warna warni
Serasa bermain ayunan di awan

Melintas dari satu ruangan ke ruangan lain menambah debar di hati. Pasalnya kita nggak tau ada apa di ruangan berikutnya. Staff yang ramah selalu menjelaskan tentang spot-spot, bahkan mereka juga bisa dimintai tolong untuk memfoto. Jadi, meskipun datang sendiri seperti saya nggak perlu takut nggak bisa foto.

Di bawah cahaya

Menurut saya sih konsep yang diusung museum MOJA sangat cool dan tentu saja instagramable banget. Konsep kekinian yang sedang ngetrend. Biasanya setelah foto-foto pengunjung langsung memposting di media sosialnya. Rasa ingin eksis di dunia maya sudah menjadi lifestyle di zaman milenial ini. Saya pernah mendengar istilah ‘kalau nggak eksis maka lo nggak gaol’. Maksud gaul di sini tentu saja di dunia maya, mereka merasa dirinya terbangun ketika eksis di media sosial. Apakah itu hanya berlaku bagi kaum milenial saja? Tentu saja tidak! Emak-amak macam saya juga masih cool kan buat eksis?

Hahahaha….

Jadilah saya menyandang gelar emak milenial gitu looohh…

Setelah memuaskan diri dengan foto-foto nggak terasa kalau hari sudah hampir sore. Selama satu jam lebih saya puas mengambil beberapa angle dengan spot yang cantik. Kalau nggak ingat waktu rasanya bisa berlama-lama di situ. Ah, deket dari rumah ini jadi saya bisa sewaktu-waktu ke sini lagi.

Cinemax

Tentang Destinasi Digital

Dari dua tempat yang saya kunjungi di atas, semua info saya dapat dari postingan di Instagram. Biasanya tempat wisata yang baru dan kekinian selalu ramai dikunjungi setelah viral di media sosial. Kehebohan destinasi pada media sosial justru berdampak positif, karena akan mendatangkan pengunjung. Tentu saja hal ini juga menguntungkan bagi pengelola. Dengan begitu pengelola  tidak usah bersusah payah mempromosikannya. Di zaman milenial sekarang ini, kekuatan media sosial sangat berpengaruh besar. Secara tidak langsung,  pengunjung yang men-share atau mengunggah foto di media sosial bisa menjadi ajang promosi.

Contoh saja foto-foto saya waktu di hutan mangrove yang dishare di instagram. Waktu saya ketik hesteg #hutanmangrovejakarta terlihat ada sekitar 2.673 kiriman.

Melihat fenomena ini, Kementrian Pariwisata lewat GENPI ( Generasi Pesona Indonesia ) membidik pasar wisata bertajuk Destinasi Digital. Tidak tanggung-tanggung untuk mengadaptasi wisatawan digital, KemenPar siap meluncurkan  100 destinasi digital. Seratus destinasi digital ini akan mewarnai 34 propinsi Indonesia. Dilandasi hasil survey dari Everbrite Harris Poll 2014, bahwa saat ini generasi milenial lebih memilih menghabiskan uangnya untuk berexperience ketimbang materials goods.

Namanya juga destinasi digital, tentu saja konsep yang diusung harus lebih kreatif dengan spot-spot fotogenik. Tahu dong fotogenik itu apa? Yup, fotogenik adalah nuansa atau spot untuk foto yang cantik dilihat, para netizen sih bilangnya Instagramable. Maksudnya apa lagi kalau bukan untuk menarik wisatawan datang berkunjung. Dan selebihnya para wisatawan atau pengunjung yang datang pasti foto, kemudian posting ke media sosial milik mereka.

Seperti pengalaman saya, kalau sedang traveling ke sebuah tempat wisata yang instagramable nggak sabar rasanya mau posting. Apalagi kalau bisa jadi yang pertama kali datang, wuih seneng banget deh. Biasanya selain banyak yang ‘like’ ada juga yang komen buat nanya-nanya soal tempat itu. Itulah kesenangan yang hakiki dari seorang netizen garis keras kayak saya.

Waktu saya browsing soal destinasi digital yang diusung GENPI, ternyata ciamik juga lho. Bahkan menurut saya sangat berbeda dari destinasi yang sudah ada pada umumnya. Meskipun belom ada yang saya kunjungi, alasannya karena semua berada di luar Jakarta. Selain ada di luar Jakarta, destinasi digital ini masih terbatas oleh waktu. Kenyataannya destinasi itu hanya ada pada hari Sabtu – Minggu saja. Semoga kedepannya sih bisa setiap hari atau minimal empat kali dalam seminggu. Nah, mau tahu destinasi digital  yang sudah dilaunching oleh KemenPar? Ini dia beberapa di antaranya :

Pasar Siti Nurbaya di Padang

Pasar Mangrove di Batam

Pasar Baba Boentjit di Palembang

Pasar Tahura di Lampung

Pasar Karetan di Kendal

Pasar Kaki Langit di Jogyakarta

Pasar Pancingan di Lombok

Pasar Kaulinan di Banten

Pasar Semarangan di Semarang

Saya sempet tanya ke diri sendiri, kenapa konsep destinasi digitalnya ko pasar? Sebenarnya ini  bukan tanpa alasan. Bukankah pasar itu tempat orang berkumpul? Lagipula pasar yang dibangun bukan seperti pasar pada umumnya. Pasar ini bukan tempat orang berjualan sayur mayur. Akan tetapi pasar destinasi digital ini banyak memiliki keunikan. 

Salah satu contohnya festival kuliner khas daerah masing-masing. Bukan hanya kuliner saja, ada juga  pementasan tari-tarian, musik, drama  kisah legenda dan sebagainya. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada workshop juga seperti membatik, menenun dan atraksi seperti permainan tempo doeloe.

Oh ya, masih ada lagi nih gebrakan dari KemenPar yaitu ingin membidik wisata baru bernama Nomadic Tourism atau dikenal juga dengan wisata Embara. Inspirasi ini muncul untuk mengatasi keterbatasan unsur 3A ( Atraksi, Amenitas dan Aksebelitas ).

Konsep yang diusung untuk wisata Embara yaitu berupa Glam Camp, Home Pad dan Caravan. Kemping mewah memang sangat trend saat ini, terutama bagi kaum milenial. Fasilitas kemping mewah ini setara dengan fasilitas hotel. Bedanya, kalau  hotel bernaung pada gedung tinggi  menjulang sedangkan kemping mewah di alam terbuka.

Sebagai rencana awal Nomadic tourism ini akan dibangun di beberapa daerah wisata unggulan.  Seperti Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika dan Borobudur. Pastinya para traveler sudah tidak asing lagi dengan tempat-tempat wisata tersebut.

Diharapkan pembanguan destinasi digital ini akan mendatangkan wisata digital sesuai target, yaitu 275 juta pada tahun 2018. Sedangkan untuk target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 17 juta ditahun yang sama. Kunjungan wisatawan mancanegara lebih diprioritaskan pada wisata Nomadic tourism.

Zaman terus berubah, mau tidak mau semua harus mengikutinya. Kalau tidak kecil kemungkinan bisa eksis dan terus hidup. Bayangkan saja semua urusan sekarang ini sudah berbasis digital semua, termasuk destinasi. Saya pribadi sangat mendukung program yang dilakukan oleh KemenPar ini. Hasilnya, wisata di Indonesia bukan cuma banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara saja, tapi juga semakin terkenal di dunia.

Nah, buat kamu-kamu bro and sis, Kids jaman now atau emak-emak digital yuk kita wisata ke destinasi digital besutan GENPI.

 

Simple dan konsisten

16
Leave a Reply

avatar
8 Comment threads
8 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
8 Comment authors
Nefertite FatriyantiSyaifuddin SayutiCucukakeketybudiharjolita chan lai Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Kang Dudi
Guest

Horang kaya jalan jalan terus

Hanni Handayani
Guest

dari sekian banyak destinasi diatas semuanya saya belum pernah, berasa kurang piknik saya

Yulia Rahmawati
Guest

Wah, jadi penasaran kayaknya seru jalan-jalan ke sana….

lita chan lai
Guest

Wah, asyik banget ya waktu kita ke Hutan Mangrove. adik2 dan teman2 pada banyak yg minta diajak ke sana. katanya hutan mangrove itu di Instagram terkenal bgt.
oia, kapan2 adik2ku diajak ke museum moja ah…pasti mereka pada senang.
makasi ya mba ety…perjalanan yang bikin ketagihan kemarin.

Cucukakek
Guest

Seru kayaknya yg MOJA

Syaifuddin Sayuti
Guest

Museum MOJA kok baru dengar ya. kapan-kapan mesti ke situ nih

Syaifuddin Sayuti
Guest

Museum MOja kayaknya keren tuh…kapan-kapan ke situ ah

Nefertite Fatriyanti
Guest

Ternyata baru sadar, kalau banyak yang belum aku tau, bahkan baru denger.
Kapan-kapan kudu eksplor Jakarta nih.
Sisihkan waktu beberapa hari ya mungkin mba