Just Mom, Yeah… Just Mom


Kemarin sore saya berkesempatan bertemu dengan seorang Editor in Chief sebuah Tabloid Wanita Ternama. Pertemuan yang sebelumnya direncanakan pukul 17.00 itu mundur tiga puluh menit dari jadwal. Sedangkan saya sendiri sudah tiba di kantor sang editor sekitar pukul 16.30. Jadilah saya menunggu di lobby yang terkesan classy and glossy. Saya duduk menghadap lorong dengan pilar beton bercat putih. Lorong nampak glossy karena di tiap celah lorong diberi lampu-lampu berwarna orange. Segar dan penuh semangat. Itulah kesan saya pertama kali masuk ke dalam kantor tabloid ini. Sambil menunggu saya tidak hanya diam, sesekali berkeliling melihat beberapa plakat penghargaan yang tersusun rapi di dalam bingkai tembok berdinding kaca. Di balik dinding kaca terdapat kolam ikan terawat. Air jernihnya mampu menggelincirkan rasa di mana saya memendam rindu. Rindu pada rerintik hujan atau terpaan angin sore sehabis hujan.

Ah…

gramed

Ini bukan hunian tapi kantor tempat di mana kata-kata tumpah, dipungut, disusun lalu diperbaiki kembali sehingga menjadi berita hangat dan memikat. Pukul 17.30 terdengar suara lembut dari smartphone mungil saya. Pertanda SMS masuk. Dari sang editor. “Mbak Ety naik aja ke lantai 3, ketemu dulu sama sekretaris saya,”bunyi SMS nya. Saya langsung menuju meja lobby mengatakan bahwa saya diminta naik ke lantai 3.

Setelah menunggu sebentar di ruang tamu lantai 3, tak lama kemudian datang seorang perempuan dengan wajah lelah. Yahhh…lelah, karena mengolah pikir seharian. Saya sangat memahaminya. Sangat ! Dialah sang Editor in Chief itu, Iis R. Soelaeman. Lalu, kamipun terlibat dalam obrolan santai tapi penuh dengan perhati. Beliau sangat humble kurasa. Saya mengutarakan maksud dan tujuan datang menemui beliau. Dan sebagai perempuan yang lama bergelut dalam dunia tulis menulis, beliau memberikan apresiasi sangat baik. Alhasil, saran sayapun langsung diterima tanpa pertimbangan. Thank’s mbak.

iis2

Malam mulai beranjak, sorepun menemui biasnya. Jika tak ada halang rintang, kami akan terus bertukar pikiran dan kata. Sayang, saya harus pamit demikian pula dengan — Mbak Iis— begitu akhirnya saya memanggil beliau. Dengan penuh penghargaan saya diantar sampai pintu lift. Duhai, pertemuan singkat namun penuh makna… Akankah kita berjanji untuk bertemu kembali ? In sha Allah…

Malam ini…

Saya sedang berselancar di ruang Instagram, dari beberapa post tersembul dari IG nya @tabloidnovaofficial. Dari situlah saya mendapati IG nya Mbak Iis, meluncur ke sana dan memfollownya. Sejatinya Instagram adalah wadah untuk merekam banyak gambar, menceritakannya lalu membagikannya pada khalayak. Saya hanya mendapati 43 post photo dengan pengikut hanya sekitar 50 orang saja. Dalam kategori media sosial, Instagram ini tidak cukup dikenal kukira. Tapi apa peduli saya ? Dan memang bukan itu yang saya pedulikan. Sekalipun hanya memiliki 43 post photo, tapi mampu menyihir mata saya untuk menatap… dan terus menatap. Berkali-kali saya sentuh layar smartphone saya melihat…dan melihatnya lagi. Tanpa bosan !

Sampai akhirnya, saya merasa ada yang menghalangi pandangan saya ke layar kaca smartphone. Apalagi, kalau bukan titik air dari dalam sana. Saya menangis. Tidak, lebih tepatnya lagi saya terharu. Haru menatap beberapa photo di IG nya Mbak Iis. Yah, perempuan yang kemarin sore saya temui. Perempuan lelah tapi tak nampak kelelahan. Namun yang tersembul adalah semangat akan karya dan karsa. Sulit bagi saya untuk mencari alasan mengapa harus berlaku demikian. Apa sebab rasa haru saya itu ? Tak lain dan bukan adalah — permata hati —

iis

Mengapa ? Kenapa ?

Begini, perempuan di belahan bumi manapun pasti memiliki kodrat menyukai anak-anak, tanpa kecuali saya. Dalam ruang Instagramnya Mbak Iis saya begitu terkesiap, melihat beliau sangat mencintai anak-anaknya, dua mata hatinya. Terbayang oleh saya saat bertemu kemarin, Mbak Iis dengan jabatan tingginya mampu meletakkan semuanya untuk sang permata hati. Home is home. No body is pressure if go home. Saya melihat dengan jelas gambaran perbedaan itu dalam diri sang editor. Tidak ada yang bisa mengusiknya saat beliau sedang berada di rumah bersama buah hati. Dalam pandangan keibuan saya, semua atribut yang melekat dalam dirinya luntur saat seorang Ibu berada di rumah. Curahan dan perhatian hanya pada keluarga saja. Demikian pula dengan Mbak Iis. Perhatian pun tak terbagi walau Si Kakak memiliki kelebihan lain dari Si Adik.

iis1

Namun begitu, ada hal lebih tajam lagi dalam tangkapan mata saya. Sekejap sang editor memang menampakkan perbedaannya, namun di sisi lain beliau juga punya persamaan. Bahkan tak berbilang jumlahnya. Beberapa yang bisa saya gambarkan di sini adalah : semangat dan senyuman. Lepas dari sudut pandang mana, sang editor tidak merubah sedikitpun tentang semangat dan senyum. Dari ke dua itulah maka tersembul sebuah kekuatan jiwa untuk mengaliri segalanya. Kekuatan abadi tanpa rekayasa secuilpun. Entah di kantor, di rumah atau di manapun Mbak Iis berada kita hanya bisa menyaksikan semangat dan senyum khasnya. Hal inilah yang membuat saya makin kagum padanya. Dan saya mendapati satu caption yang berhasil menjerat saya, Just Mom… Dua kata ini ditebar untuk penyemangat, bagi saya juga tentunya. Kata ini sanggup melepaskan rutinitas dan kepenatan sanubari, karena saya juga merasakannya.

Sore kemarin…

Rasanya saya ingin kembali merasa sore kemarin, menemukan penyemangat sejati. Saya malu pada sore kemarin, karena saya tak bisa memberi arti sedepapun. Tapi perempuan yang berada di hadapan saya mampu menterjemakan tiap bait kehidupan tanpa kamus. Membuat saya semakin ingin terus menyimak kalam-kalam semangat serta senyumnya. Again, syukur karena Allah Ta’ala  selalu memberi takdir indah bagi saya. Karenanya saya dipertemukan oleh orang-orang yang kaya hati, dengannya saya selalu bersyukur.

Terimakasih Ya Rabb atas pemberian Mu sore kemarin…

*photo diambil dari IG nya Mbak @iissoelaeman

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz