Menelusuri Kinerja Bea Cukai Sebagai Penjaga APBN

Dua minggu ini masyarakat Indonesia, terutama kaum Ibu Rumah Tangga dihempas oleh realita pasar. Pasalnya, harga cabe melonjak tajam di berbagai daerah bahkan ada yang sampai tembus 250.000 rupiah per kilogram. Realita ini bukan hanya menjadi mimpi buruk bagi Ibu Rumah Tangga tapi juga pengusaha restaurant dan katering. Berita tentang melonjaknya harga cabe ini menjadi viral baik di media sosial maupun media konvensional. Yang paling rame adalah di media sosial, karena banyaknya berita tanpa kejelasan. Masing-masing beropini sendiri dan mengklaim bahwa beritanyalah yang paling benar. Misalnya saja, bahwa meskipun harga cabe melonjak tajam tapi nasib petani cabe masih tidak ada perubahan.

Begitupula yang terjadi dengan saya, sebagai Ibu Rumah Tangga tidak terlepas dari kenyataan tersebut. Nyatanya toh saya memang tetap harus membeli cabe untuk kebutuhan masak-memasak. Itulah sebabnya, perasaan saya sedikit terguncang ketika membaca berita di salah satu media online. Isi beritanya mengatakan bahwa Direktorat Jenderal Bea Cukai Manado telah melakukan pemusnahan cabe kering sebanyak 50 kilogram di Karantina Kelas I. Miris rasanya membaca berita tersebut, benar-benar sangat bersebrangan dengan realita sesungguhnya. Meskipun tulisan itu dilansir jauh sebelum harga cabe melambung tapi tetap saja membuat hati teriris. Bagaimana tidak, disaat harga cabe sedang tinggi tapi Bea Cukai malah memusnahkannya. Dan, dari sinilah timbul dua pertanyaan dalam hati saya.

Benarkah yang dilakukan Bea Cukai?

Adilkah yang dilakukan Bea Cukai?

Dari dua pertanyaan itulah, saya mulai melanglang menuju websitenya Bea Cukai. Saya mulai baca dan pelajari satu persatu setiap pemberitaan Bea Cukai. Saya tidak hanya menemukan berita tapi juga berbagai aktivitas, kinerja dan pencapaian Bea Cukai. Semua pemberitaan itu membuat terpana. Kecurigaan saya dan rasa negative yang muncul dari kasus cabe mahal mulai menemui titik terang. Kali ini saya akan membuka betapa selama ini Bea Cukai sudah melakukan banyak hal untuk kepentingan Bangsa dan Negara di bidang ekonomi dan pembangunan.

Keterpanaan saya berubah menjadi pemikiran bahwa selama ini saya sudah salah menilai lembaga yang berada di bawah naungan Kementrian Keuangan itu.

Betapa selama ini saya tidak mengenal Bea Cukai dengan baik, dan kini saatnya kesempatan datang. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal Bea Cukai lebih dalam lagi. Saya juga ingin mengajak para pembaca tulisan saya di blog ini untuk mengikuti Roadshow go to Bea Cukai. Semua ini tentu saja dimaksudkan agar kita mengetahui seluk beluk Sang Penjaga APBN.

 Sekilas tentang bea cukai

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ( selanjutnya disebut Bea Cukai ) merupakan unit Eselon I yang berada di bawah kementrian Keuangan RI. Bea Cukai sering juga disebut sebagai institusi global, karena kedudukannya yang setara dengan kepolisian, kejaksaan, pengadilan bahkan tentara nasional. Dengan begitu Bea Cukai bisa dikatakan sebagai perangkat Negara dan dimiliki oleh setiap Negara di dunia. Pada masa Hindia Belanda, masyarakat mengenal Bea Cukai sebagai lembaga Kepabeanan. Penyebutan Bea yang berasal dari bahasa Sansekerta dikarenakan lembaga ini memiliki tugas memungut biaya impor maupun ekspor.

Di sini saya mulai tahu bahwa Bea Cukai itu bertugas untuk mengumpulkan dana yang berasal dari segala penerimaan. Adapun dana yang dikumpulkan oleh Bea Cukai berasal dari berbagai sumber. Beberapa sumber dana tersebut yaitu :

  • Pajak Internasional
  • Pajak Dalam Negri

  • Penerimaan Bukan Pajak

Sebagaimana diketahui bahwa sumber pemasukkan terbesar ke dalam kas Negara berasal dari sektor pajak termasuk di dalamnya adalah bea cukai.  Semua dana-dana itu akan dikumpulkan ke dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara dikenal dengan sebutan APBN.  Nah, APBN inilah yang menjadi sumber pembangunan nasional, baik fisik maupun non fisik. Berdasarkan data yang dirilis sepanjang tahun 2016 Bea Cukai telah memberikan sumbangsih sebesar 27 % dari total APBN. Adapun sumbangsih yang diberikan itu setara dengan pembangunan 117.000 Puskesmaa, 350.000 Sekolah dan 70.600 km jalan. Nilai tersebut membuktikan bahwa Bea Cukai telah menjalankan tugas pokoknya dengan baik. Selain dari tugas pokok tersebut, Bea Cukai juga masih memiliki tugas lain, adapun tugasnya akan saya paparkan di bawah ini.

Tugas bea cukai

Sebelum saya lanjutkan pemaparan tentang tugas Bea Cukai, rasanya sebutan Bea Cukai terdengar sangat formal. Dalam bahasa Inggrisnya Bea Cukai atau Pabean biasa disebut  Custom atau Duane dalam bahasa Belanda. Maka jangan kaget jika dalam beberapa tulisan akan ditemui kata tersebut. Melengkapi soal  tugas Bea Cukai  berikutnya yaitu :

  •  Mengawasi kegiatan ekspor dan impor

  • Mengawasi peredaran minuman yang mengandung alkohol atau etil alkohol

  • Mengawasi peredaran rokok atau barang hasil tembakau lainnya

  • Sebagai fasilisator perdagangan yang berwenang melakukan penundaan atau pembebasan pajak pada kasus-kasus tertentu

  • Membatasi barang-barang yang berdampak negative seperti : pornografi, kesehatan dari rokok, minuman keras, obat-obatan, makanan dan narkotika

  • Membatasi konsumsi barang-barang mewah

  • Melakukan perlindungan lingkungan dan sumber daya alam

Dari beberapa tugas inilah saya menyimpulkan mengapa Bea Cukai telah melakukan pemusnahan cabe kering atau bawang putih. Karena kedua bahan masakan tersebut telah terindikasi pada penyelendupan. Sejatinya ke dua bahan tersebut memang tidak merugikan, baik secara individu atau umum. Akan tetapi perbuatan dari pelaku usaha yang menyebabkan kerugian Negara. Dengan begitu tidak ada cukai yang masuk ke dalam APBN justru sebaliknya, merugikan Negara. Sampai di sini saya mulai paham tentang kinerja Bea Cukai demi terpenuhinya APBN. Kinerja terus menerus demi tercapainya pemerataan pembangunan bahkan berusaha lebih baik lagi. Kinerja yang dilakukan Bea Cukai terus meningkat, hingga mencapai hasil.

Pencapaian Bea Cukai

Kinerja Bea Cukai dibuktikan dengan meningkatnya peringkat Indonesia pada survey Ease of Doing Business ( EODB ) yang dilakukan oleh Bank Dunia. Di mana pada tahun 2015 Indonesia berada di urutan 106 lalu menjadi 91 tahun 2016. Survei ini menunjukkan kontribusi Bea Cukai terhadap kenaikan tersebut terkait dengan perdagangan lintas Negara. Perbaikan signifikan Bea Cukai  meliputi :

  1. Customer Service Improvement

  2. Pelayanan kepabeanan melalui implementasi INSW

Begitu pula dari sektor industri, Bea Cukai telah melakukan implementasi dengan menggandeng Industri Kecil Menengah ( IKM ). Adapun program dari Bea Cukai adalah pendampingan kepada usaha kecil yang sudah memiliki produk untuk diekspor tapi belum tahu prosesnya. Mengapa Bea Cukai peduli pada pengusaha kecil, karena IKM menyumbangkan 57 % produk domestik bruto Indonesia dan menyerap 97 % tenaga kerja.

Pencapaian lainnya yaitu di bidang pengawasan terhadap penindakan keluar masuk barang illegal seperti narkoba, flora dan fauna yang dilindungi dan barang-barang terkait kegiatan terorisme. Begitu pula dengan penindakan narkoba, psikotropika dan prekusor. Semua keberhasilan ini menunjukkan bahwa kinerja Bea Cukai #MenjadiLebihBaik dari tahun-tahun sebelumnya. Keberhasilan dalam menindak narkoba misalnya, ditandai dengan nyawa yang terselamatkan.

Melalui tulisan ini, sebagai masyarakat umum sekaligus Ibu Rumah Tangga, saya menjadi paham dan tidak teriris lagi dengan langkah Bea Cukai. Semua jadi terang benderang bahwa apa yang dilakukan oleh Bea Cukai semata-mata untuk kepentingan Bangsa dan Negara.

 

Leave a Reply

2 Comments on "Menelusuri Kinerja Bea Cukai Sebagai Penjaga APBN"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Ika Puspitasari
Guest

Tugas Bea Cukai memang berat ya mbak, dia ada di garda depan yang mengurusi barang-barang yang akan masuk ke negara kita.

wpDiscuz