Artikel Umum

Mengenalkan Bentuk Literasi Yang Berbeda Pada Anak-anak

Terus terang saya sudah nggak sabar mau ngajarin Baby Adreena ( 3,5 tahun ) membaca. Keinginanku ini bukan sekarang aja tapi sejak dia berumur 3 tahun. Beberapa kali pernah saya coba ajarkan sambil bermain tentunya. Begitu juga dengan menulis, saya memintanya menulis huruf atau angka di white board. Awalnya memang saya yang menyuruhnya, tapi setelah beberapa kali saya suruh lagi dia menolak. Namun kadang-kadang dia sendiri yang meminta untuk diajarkan menulis atau membaca. Intinya, anak seusia dia belum bisa belajar dengan serius.

Dari beberapa artikel yang pernah saya baca ditambah lagi dengan sering hadir dalam acara parenting, saya berkesimpulan. Bahwa, anak bawah lima tahun belum boleh diajarkan membaca dan menulis. Sejak saat itu, saya nggak  ngotot lagi ingin mengajarkan Baby Adreena menulis dan membaca.

Sebenarnya literasi bukan hanya membaca dan menulis saja. Akan tetapi yang sering dikenal dalam masyarakat adalah membaca dan menulis. Berbicara, menghitung, melatih kreativitas dan ketrampilan juga menjadi bagian dari literasi. Inilah yang bikin salah kaprah, alih-alih anak jadi sasaran. Anak balita yang belum boleh belajar membaca dan menulis, dipaksa untuk belajar.

Padahal mengajarkan ketrampilan dan melatih kreativitas juga sama pentingnya dengan membaca dan menulis. Kesimpulan ini murni berasal dari diri saya sendiri. Hasil kesimpulan ini saya peroleh ketika mempraktekkan langsung pada Baby Adreena. Hasilnya, melatih motorik anak berupa kreativitas dan ketrampilan membuat anak lebih punya rasa peka dan peduli. Menurut saya, literasi membaca dan menulis hanya boleh dikenalkan saja bukan diajarkan. Justru yang boleh langsung diajarkan adalah kreativitas dan ketrampilan. Berikut beberapa hal tentang literasi yang saya ajarkan pada Baby Adreena.

1. Bermain aktivitas di rumah seperti masak-masakan

Setiap anak perempuan pasti punya mainan masak-masakan. Peralatannya juga mirip dengan yang ada di dapur seperti panci, penggorengan, kompor dan lainnya. Karena Baby Adreena sering melihat saya memasak jadi dia sedikit hapal. Misalnya cara menggoreng atau membuat sayur. Semua cara itu diikutinya, bahkan sampai mencuci perabotan bekas memasak. Kepekaan dari aktivitas memasak ini adalah dia selalu mau ikut membantu mencuci piring.

2. Bermain profesi seperti dokter-dokteran

Profesi dokter telah menjadi profesi favorit setiap anak. Coba aja deh tanya, kelak jika besar nanti mau jadi apa? Mereka pasti menjawab dokter atau pilot. Begitu juga ketika saya bertanya pada Baby Adreena, dia mau jadi dokter. Makanya dia seneng banget waktu dibeliin mainan berupa dokter-dokteran. Peralatan yang terdiri dari stetoskop, alat suntik, termometer dan alat cabut gigi menjadi mainan favorit. Tak ayal lagi, kami sekeluarga terpaksa menjadi pasiennya setiap hari. Hasil kepekaan dari permainan ini, dia jadi peka ketika ada salah satu dari kami yang sakit.

3. Bermain puzzle tempel

Saya pernah mengajak Baby Adreena bermain puzzle, tapi dia nggak tertarik. Kepingan puzzle itu hanya dimain-mainkan saja tanpa mau dipasang ke bidangnya. Lalu, saya membelikannya puzzle tempel dengan aneka gambar dan warna. Ternyata, dia sangat antusias sekali meminta saya untuk segera bermain. Bahkan tanpa diajarin pun dia bisa melepaskan kemudian menempelkan di bidang yang lain. Hanya dalam hitungan jam, puzzle tempel tersebut selesai dikerjakan. Kepekaan yang saya lihat dari permainan puzzle tempel ini yaitu dia jadi lebih hati-hati lagi dalam mengerjakan sesuatu. Contoh nyatanya ketika minum dari gelas, dia sangat hati-hati memasukkan air ke dalam mulutnya.

 

4. Mewarnai gambar

Mewarnai gambar merupakan pengenalan literasi yang paling baik. Karena selain mewarnai, secara tidak langsung anak juga belajar mengenal warna. Artinya, mewarnai merupakan satu aktivitas tapi bisa dilakukan sekaligus.

5. Mengenal Buah-buahan 

Kebanyakan anak-anak nggak suka dengan buah, begitupula dengan Baby Adreena. Banyak cara yang sudah saya lakukan agar Baby Adreena suka makan buah, tapi hasilnya nihil. Saya pikir bagaimana dia bisa mengenal buah kalau dia tidak suka dengan buah. Ah, daripada nggak suka buah dan nggak kenal buah maka saya belikan gambar buah-buahan. Sambil belajar tentang buah, saya ceritakan juga pentingnya makan buah. Alhasil, dia pun mulai bertanya tentang buah yang asli. Lalu, saya membelikannya dan memintanya untuk sekedar mencicipi. Sekali dua kali memang tidak berhasil tapi lama kelamaan berhasil juga.

Nah, begitu cara saya mengenalkan bentuk literasi yang berbeda dari biasanya. Saya tidak akan memaksakan ego hanya agar anak bisa baca tulis sejak usia dini. Saya berpendapat semakin dini anak bisa baca tulis bukan semakin baik. Hal itu justru akan menimbulkan rasa bosan dan memaksakan kehendak. Padahal sejatinya seorang anak harus dibiarkan berkembang sesuai dengan kreativitasnya. Itu sih menurut saya loh, silakan saja jika ada yang mau sharing tentang literasi yang lain. Salam literasi!

Simple dan konsisten

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
etybudiharjoantung apriana Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
antung apriana
Guest

wah tulisannya beda dengan yang lain yaa. setuju literasi nggak melulu soal membaca dan menulis