Merdeka Dalam Bingkai Cita Rasa


Memasak adalah rutinitas saya setiap hari. Rutinitas yang sudah saya lakukan selama berpuluh-puluh tahun ( 30 tahun ), bahkan jauh sebelum Tabloid Saji lahir. Rutinitas yang tidak menjemukan tapi sebaliknya mengasyikkan. Masih dalam rangka menyambut Kemerdekaan Negri tercinta Indonesia ke – 70 dan Hari jadi tabloid kesayangan saya SAJI ke – 12, saya mencoba merefleksikan cerita memasak. Dan pada bulan Agustus ini bertepatan juga dengan hari lahirnya suami tercinta, 21 Agustus.

Ketiga moment special tersebut akan saya bingkai dalam versi memasak sekaligus menulis. Yup, memasak dan menulis adalah dua aktivitas yang sudah mendarah daging. Bagi saya, memasak adalah proses menuangkan kreatifitas yang bermuara pada puas atau tidak. Sedangkan menulis adalah proses di mana saya wajib melahirkan ide agar memiliki ruh.

Menyambut hari lahir dari ke tiga insan yang saya sebutkan di atas, bahwa lahir berarti merdeka. Lepas dari tali pusat yang membelit janin dan keluar dari rahim ibu. Semua pasti setuju dengan hal ini. Maka untuk mengenang hari lahir atau merdeka atau bebas tersebut diadakannlah upacara selamatan dalam berbagai bentuk dan versi.

Intinya merdeka dalam memasak, membuat saya semakin mahir dalam berkreatifitas. Tidak tersekat oleh apapun, seperti ketika saya memasak hidangan buat suami kemarin. Karena hari lahir suami jatuh pada hari Jum’at maka saya memasaknya hari Sabtu. Alasannya agar semua dapat berkumpul dan anak-anak sekolahnya juga libur. Setiap kali saya memasak untuk hari special saya selalu meng-update resep baru, maksudnya supaya nggak bosen. Oke deh ini cerita saya waktu memasak untuk ulang tahun suami tercinta, menunya “Nasi Kuning Harapan”.

21 Agustus 2015

Acara masak nasi kuning kali ini, seru karena banyak yang bantuin. Ada anak-anak dan kebetulan keponakan yang lagi nginep. Mereka sudah nggak sabar ingin agar nasi kuningnya cepet selesai. Maksudnya apalagi coba kalau bukan ingin segera menikmatinya. Sebagai komandan saya langsung membagi-bagi tugas. Dapur yang berukuran 3 x 3 itu jadi penuh sesak. Sesekali terdengar suara dentingan panci atau gemerincing piring. Sungguh sebuah aktivitas yang mengasyikkan. Apalagi melihat pemandangan perabotan kotor. Aduhai… !

Khusus nasi kuningnya saya yang memasak, karena prosesnya agak ribet. Sebelumnya siapkan santan, sereh, kayu manis, daun salam dan perasan air kunyit. Setelah itu masukkan beras yang sudah dicuci bersih. Masak di atas kompor dengan api sedang, sambil terus diaduk. Setelah santan meresap matikan api. Langkah selanjutnya yaitu panaskan dandang berisi air. Biarkan mendidih, masukan beras yang sudah jadi aron. Masak kurang lebih selama satu jam.

Si Kakak saya bagi tugas mengiris tempe untuk bikin kering tempe. Pada akhirnya semua masakan sayalah yang memasaknya. Mulai dari menggoreng kerupuk, bawang goreng, kering tempe, dadar telur dan ayam bakar. Tak lupa sambal serta lalap berupa ketimun dan daun kemangi. Terus terang saya sangat bahagia bisa memasakkan makanan kesukaan suami di hari spesialnya. Karena kami sudah tidak muda lagi, beberapa hari menjelang hari – H saya tanyakan ingin dibuatkan apa. Kata suami kalau kue ulang tahun sudah bosan, gimana kalau nasi kuning.

Dan dengan senang hati saya langsung menyetujui. Jujur saja, jauh sekali bedanya kalau pada hari special harus makan di luar. Selama bertahun-tahun saya selalu memasak sendiri jika ada moment yang special. Puas rasanya jika saya memasak menu istimewa di hari special. Rasa lelah setelah berjibaku berjam-jam di dapur, terbayar oleh pujian karena rasa masakan yang enak. Untuk kali ini saya memilih menu nasi kuning dengan ayam bakar. Masih atas permintaan suami, ayamnya jangan digoreng tapi dibakar aja.

Akhirnya setelah browsing resep ayam bakar di internet, saya menemukan Ayam Bakar Taliwang. Ini adalah pertama kali saya memadukan nasi kuning dengan ayam bakar taliwang. Semoga saja rasanya klop !

Nasi kuning siap, tempe kering, kerupuk, bawang goreng, sambal dan lalap siap. Saatnya bakar ayam. Dan… Pertempuranpun selesai tepat jam 10.00. Masih ada waktu untuk bikin es buah, blewah dan cincau hitam. Begitulah cerita memasak saya untuk sebuah moment special di ulang tahun suami. Seru, heboh penuh kekeluargaan. Memasak memang moment yang paling tepat untuk berkumpul. Kami merasa merdeka saat memasak, karena kami bisa mengeksplor kreatifitas.

Kami juga bisa saling cerita setelah selesai memasak. Ada yang motong tempenya kegedean lah, goreng bawangnya gosong dan masih banyak lagi cerita seru memasak. Semua memang melelahkan tapi banyak pengalaman serunya. Pengalaman yang tidak bisa didapat kalau kita merayakannya di restaurant. Di mana kita tinggal duduk dan main gadget sambil menunggu pesanan datang.

IMG-20150502-00725

Akhir kata Selamat Ulang Lahir ke – 12 Tabloid SAJI. Tetaplah menjadi tabloid memasak yang Up to date dan terdepan !

Leave a Reply

4 Comments on "Merdeka Dalam Bingkai Cita Rasa"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Pakde Cholik
Guest

Wanita sebaiknya mau dan mampu masak untuk dirinya dan keluarganya ya Jeng.
Nasi kuning nan lezat.
Salam hangat dari Jombang

evrinasp
Guest

walah aku sekalinya masak sama alfi pas bikin browis aja mbak, dapur udah kaya masak selametan aja hehe berantakan kabeh

wpDiscuz