Nggak Jaman Tuna Netra Masih Buta Internet


“Ikut dong, pengen temu kangen nih sama mas Hazmi”. Begitulah kira-kira komenku, ketika membaca undangan yang dishare oleh mas Ahmed. Berkat Rahmat Allah Yang Maha Esa, sayapun terdaftar sebagai blogger yang siap meliput acara bertema Sosialisasi Pelatihan Internet Untuk Tuna Netra. Yup…di tengah gencarnya berbalas blog, saya sudah konsisten sejak awal ngeblog. Konsisten untuk jadi diri sendiri dan bukan sekedar ikut-ikutan. Sepaham saya apapun yang dilakukan dengan berlebih-lebihan maka hasilnya cuma modorat saja. Yaelah…pake ceramah lagi bukannya laporan ! Oke saya nggak mau bahas soal itu, dah pada gede semua kan…

Teriknya matahari mengiringi perjalanan saya untuk menghadiri acara yang digelar oleh Blogger Reporter Indonesia ( BRID ). Ini adalah kali kedua saya mengikuti event yang diadakan oleh BRID, setelah tiga tahun gabung. Jadi nggak salah dong kalau saya mau temu kangen sama mas Hazmi #eh. Setelah melalui adegan nyasar, sampailah saya pada alamat yang dituju, yaitu di Jl. Pengadegan Utara Rt 10/02 No. 14 Cikoko JakartaSelatan.

Setelah registrasi, saya langsung menyapa dua teman blogger yang sudah lebih dulu tiba siapa lagi kalau bukan mas Ahmed dan mas Unggul. Setelah ngobrol sebentar saya dapat info dari mas Ahmed tentang acara tersebut. Ternyata rumah tersebut akan dijadikan sebagai basecamp pelatihan internet. Ya, pelatihan internet yang dikhususkan untuk para tuna netra ini merupakan tonggak sejarah Revolusi Digital. Dengan begitu teman-teman tuna netra sudah tidak buta teknologi digital lagi. Meskipun secara fisik mereka tidak dapat melihat, tapi itu bukan penghambat baginya. Perkembangan dunia digital saat ini sudah dibarengi dengan kecanggihan perangkat pendukungnya, termasuk untuk tuna netra.

Siapa penggagas kegiatan ini ?

Terus terang, saya agak asing mendengar kata RIAT. Saya kira itu nama orang tapi ternyata merupakan singkatan dari Rumah Internet Atmanto. Pendiri RIAT adalah Bapak Indar Atmanto, beliau juga merupakan sosok yang telah lama berkecimpung dalam dunia internet. Bukan hanya itu Pak Indar juga menjadi pelopor lahirnya dunia internet di Indonesia. Karena suatu dan lain hal beliau tidak bisa melanjutkan perkembangan internet di Indonesia, jadilah kegiatan ini diserahkan pada keluarga beliau.

Adalah Ibu Amy, istri dari Pak Indar Atmanto bersama dengan sang anak Faiz ( 16 tahun ) yang melanjutkankan kiprah suaminya. Bu Amy sendiri sudah berkecimpung dalam dunia fashion bahkan namanya cukup terkenal dalam jajaran perancang busana Nasional. Salah satu aktivitas yang akan dijalankan yaitu dengan mengadakan pelatihan internet khusus bagi tuna netra. Untuk mencapai kegiatan tersebut RIAT menggandeng komunitas KARTUNET ( Karya Tuna Netra ). KARTUNET merupakan komunitas yang konsern dalam hal bimbingan dan pelatihan internet bagi tuna netra. KARTUNET sendiri didirikan oleh Dimas Prasetyo, seorang alumnus Sastra Inggris dari Universitas Negri terkemuka. Maksud didirikannya komunitas ini adalah ingin mengajak kaum tuna netra mengenal dunia digital.

riat1
Ibu Amy dan Faiz Atmanto ( kanan ke kiri )

Pada acara sosialisasi ini, diperagakan juga bagaimana teman tuna netra berselancar dengan internet. Dalam kesempatan ini salah satu founder KARTUNET yang lain, mas Sastro memperagakan bagaimana cara browsing internet. Dalam kata sambutannya mas Dimas mengatakan bahwa teman-teman tuna netra juga sangat membutuhkan informasi dari internet. Mereka malah tidak menggunakan internet hanya sebagai lifestyle saja. Mereka ingin memaksimalkan penggunaan internet untuk mencari penghasilan. Hal ini dikarenakan mereka tidak bisa mengandalkan kerja di dunia nyata di mana penghasilannya hanya sebatas UMR saja. Bagi teman-teman normal mungkin penghasilan UMR lebih dari cukup, karena mereka bisa menggunakan jasa angkutan umum. Tapi tidak demikian halnya dengan teman-teman tuna netra, mereka harus mengeluarkan cost lebih banyak untuk biaya transportasi.

riat2
Mas Dimas ( paling kiri )

Begitulah kira-kira gambaran mengapa teman-teman tuna netra ingin mengandalkan internet sebagai bahan menambah penghasilan. Soal persaingan, rasanya di dunia maya persaingannya masih dibilang cukup sehat dan dapat diatasi. Sebagai contoh, ada mas Rico yang sudah menjalankan marketing internet dalam beberapa tahun ini dengan penghasilan US$20.000 . Ini menunjukkan bahwa teman-teman tuna netra cukup mampu bersaing di dunia maya dalam hal bisnis.

Adapun pelaksanaan dari pelatihan ini, rencananya akan digelar bulan Mei mendatang. Pelatihan akan diadakan secara bergelombang dan dikhususkan bagi teman-teman tuna netra yang tinggal di sekitar Jabodetabek saja dulu. Kedepannya pelatihan internet ini akan meluas ke seluruh pelosok Indonesia. Sebagai penggagas awal berdirinya KARTUNET, mas Dimas merasa sangat senang sekali karena RIAT bersedia mensupport dan memfasilitasi kegiatan ini. Ucapan terimakasih yang tak terhingga juga disampaikan oleh beberapa teman-teman tuna netra yang hadir dalam acara tersebut. Semoga saja kegiatan ini dapat berjalan lancar dan sukses. Sehingga teman-teman tuna netra Indonesia tidak lagi berada dalam kebutaan teknologi. Saat ini selain telah dikeluarkannya UU disabilitas sudah nggak jaman teman-teman tuna netra tertinggal dalam teknologi digital. Mereka juga bagian dari masyarakat Indonesia yang mempunyai hak sama dengan masyarakat lainnya.

Leave a Reply

6 Comments on "Nggak Jaman Tuna Netra Masih Buta Internet"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Ahmed Tsar
Guest

semoga RIAT terus bertahan dan malah memberi inspirasi ke gerakan difabel lainnya…

Oline
Guest

Waaah penggagasnya Bapak Indar Atmanto..

tini djajadi
Guest

Ibu Amy Atmanto concern banget kepada masyarakat disabilitas sebelumnya beliau jg banyak memberikan keterampilan kepada penyandang tuna rungu. Sebelumnya saya juga kagum melihat teman2 tuna netra menggunakan laptop berbicara. Alhamdulillah sekarang ditambah dg ilmu internet, apresiasi yg tinggi utk kelg bpk/ibu Atmanto.

wpDiscuz