Artikel Umum

Nuklir, Siapa Takut? Kan Ada Bapeten

“Maaf, Ibu silakan tunggu di luar saja.”

Seorang  tenaga medis memintaku menunggu di luar. Tanpa banyak tanya, sayapun berdiri dari kursi dan bergegas ke luar. Sambil menunggu suami CT Scan, saya duduk di ruang tunggu yang memang disediakan bagi penunggu. Begitulah, peraturan yang diterapkan di rumah sakit tempat biasa suami berobat. Setiap tiga bulan sekali suami memang sering menjalani cek kesehatan. Dan, terkadang tiap berobat dokter meminta suami untuk melakukan tindakan. Mulai dari Rontgen paru-paru,  CT Scan, Kolonoskopi ataupun Endoskopi. Tergantung dari penyakit yang diderita oleh suami.

Rontgen tulang belakang suami

Setiap kali melakukan tindakan yang saya sebutkan di atas, saya tidak diperbolehkan menunggu di dalam. Tenaga medis menyuruh saya untuk menunggu di luar. Saya pernah menanyakan soal ini. Jawabannya, karena alat yang digunakan untuk melakukan tindakan itu memiliki sinar radiasi.

Nah, loh!

Mendengar kata ‘radiasi’ pikiran saya langsung melayang pada nuklir.

Yup, sepanjang pengetahuan saya nuklir itu berbahaya, SANGAT BAHAYA malah. Ternyata bukan cuma saya saja yang beranggapan begitu.  Masih banyak masyarakat di luar sana yang sama seperti saya. Kami masih menganggap kalau nuklir itu sangat berbahaya.

Benarkah begitu?

Kondisi kurangnya edukasi tentang nuklir dan informasi yang simpang siur, mendorong BAPETEN ( Badan Pengawas Tenaga Nuklir ) menggelar gathering bareng blogger, vlogger dan media. Selasa, 25/9 2018 lalu BAPETEN mengedukasi kami mulai dari pengenalan, bahaya dan pemanfaatannya.

Media gathering bersama Bapeten

Ibu Retno Agustyah, selaku Kepala Subbagian Humas mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan soal nuklir.

“Pada dasarnya tak ada yang perlu ditakuti oleh keberadaan teknologi nuklir dan zat radioaktif di Indonesia. Meskipun beberapa tahun silam pernah terjadi ledakan di negara lain dan dampaknya,”demikian kata Bu Retno.

Bu Retno ( doc. Dudi Iskandar )

Seingat saya, kecelakaan nuklir terdahsyat pernah terjadi di Ukraina, tepatnya Chernobyl. Ledakan inti nuklir yang terjadi pada tahun 1986 itu langsung menewaskan 31 orang. Sedangkan dampak dari paparan radiasinya beberapa tahun kemudian baru terlihat.

Bukan hanya itu, tragedi Fukushima Daiichi Jepang kebanyakan korban hanya luka bakar tidak ada korban jiwa. Pemicu dari tragedi ini adalah setelah terjadinya gempa dan tsunami di Tohuku 11 Maret 2011. Tak berapa lama setelah gempa, reaktor aktif secara otomatis dan mematikan reaksi fisi berkelanjutan. Dan yang paling melegenda yaitu peristiwa bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.

Tragedi nuklir yang terjadi di beberapa tempat tersebut di atas, tidak sebanding dengan bahaya lain. Seperti misalnya bahaya Narkoba atau kecelakaan lalu lintas di mana per tahunnya bisa mencapai 70 – 80 ribu korban. Namun begitu, nuklir tetap harus diawasi dan terus dikembangkan demi mengambil manfaatnya.

“Pada dasarnya nuklir atau zat radioaktif terdapat juga dalam mahluk hidup, seperti buah-buahan. Ada yang tahu, buah apa yang mengandung zat radioaktif?”tanya Bu Retno melanjutkan pemaparannya.

Kebanyakan peserta menggeleng, artinya tidak ada yang tahu. Akhirnya Bu Retno menjawab sendiri pertanyaannya, yaitu buah pisang.

Selain pisang, ada juga beberapa makanan yang mengandung zat radioaktif seperti : selai kacang, daging merah, garam, wortel, kentang  dan kacang yang berasal dari Peru dan Brazil. Daging merah misalnya, mengeluarkan radiasi hingga 3000 pCi/kg. Radiasi tersebut disebabkan oleh keberadaan isotop potasium-40. Isotop ini mempunyai umur yang sangat lama, mencapai 1,2 miliar tahun llebih. Setelah diteliti lebih lanjut, kandungan radiasi yang ada dalam daging merah tidak membahayakan bagi kesehatan tubuh. Namun  justru  kandungan lemak lah yang membahayakan.

Contoh makanan di atas bukan untuk membuat kita jadi takut mengkonsumsi. Namun justru sebaliknya, manfaat zat-zat yang terkandung dalam makanan itu jauh lebih besar ketimbang radioaktif. Dengan kata lain,  zat radioaktif sebagai bahan pembuat nuklir masih memberikan manfaat bagi kehidupan. Sebelum saya membahas manfaat radiasi lebih jauh, ada baiknya saya kenalkan dulu apa itu nuklir.

Nuklir Bukan Bom

Dalam dunia fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua atau lebih inti atom yang saling bertubrukan. Dari tubrukan ini akan menghasilkan energi yang akan diolah untuk  dimanfaatkan kembali.

Doc. Wikipedia

Ada dua jenis  reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Salah satu  contoh dari fusi nuklir adalah memberikan daya dorong pada bintang untuk bersinar. Sedangkan contoh dari fisi nuklir yaitu pembangkit listrik tenaga nuklir. Adapun bahan utama pembuat nuklir yaitu Plutonium dan Uranium

doc. VOA

 

Manfaat Tenaga Nuklir Bagi Kehidupan

Di atas tadi saya sudah sempet infokan manfaat nuklir bagi kehidupan manusia. Banyak sekali manfaat yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya adalah : 

  • Bidang Kedokteran

~ Sterilisasi alat-alat kedokteran dengan menggunakan radiasi sinar gamma

~ Kedokteran nuklir dengan membuat radioisotop yang digunakan untuk terapi pasien cancer

~ Alat-alat seperti Rotgen, MRI, CT Scan dan lainnya

  • Bidang Industri

Teknik radiografi digunakan pada bidang industri untuk mengetahui adanya cacat pada hasil produksi yang  tidak  bisa dilihat oleh mata secara langsung. Sumber radiasi yang digunakan adalah sinar X, sinar gamma dan neutron.

  • Bidang Pertanian

Dalam bidang pertanian, nuklir digunakan untuk pengawetan bahan makanan setelah panen. Pemberantasan hama dan pemakaian pupuk juga menggunakan nuklir.

  • Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

PLTN dapat menghasilkan tenaga panas melebihi pembakaran dengan menggunakan bahan fosil.

Penjelasan dari Bu Retno tentang nuklir membuat saya lega. Jujur saja, selama ini saya memang paranoid banget kalau mendengar kata nuklir atau radiasi. Makanya saya kadang merasa enggan untuk ke rumah sakit jika suami meminta ke dokter. Tapi, meskipun begitu saya tetap harus mendampinginya berobat. Toh, kalau beliau sehat saya juga yang senang.

Pada sesi kedua ada Bapak Abdul Qohar TEP, Kepala Bagian Humas dan Protokol. Pak Qohar—begitu biasa disapa lebih menjelaskan tentang teknik ke-nuklir-an. Makanya waktu sesi ini, saya beneran nggak jelas. Ternyata Pak Qohar juga memahami situasi ini, jadi setelah makan siang kami diajak langsung ke kantornya. Jarak dari tempat gathering dengan kantor Pak Qohar cukup dekat.

Pak Qohar

Kantor yang dimaksud tentu saja BAPETEN ( Badan Pengawas Tenaga Nuklir ). Kurang dari  lima belas menit nyebrang jalan ( saya nggak kuat lewat jembatan penyebrangan ) tibalah kami  di kantor BAPETEN.

Kantor BAPETEN Jl. Gajah Mada No. 8 Jakarta Pusat

Benar saja dugaan saya, kantor ini bukan seperti kantor-kantor lainnya.  Ruangan yang pertama kali kami kunjungi adalah room decision. Di ruangan ini Pak Qohar menerangkan jika terjadi kasus kebocoran radiasi di wilayah Indonesia maka akan dirundingkan di sini. 

Selanjutnya peserta  dibagi menjadi dua grup.  Grup pertama akan pindah ke ruangan lain. Dan grup kedua tetap di ruangan, saya kebagian grup kedua. Selanjutnya Pak Qohar, mengajak kami untuk melihat beberapa layar monitor. Layar pertama lokasi Istana Negara, layar kedua lokasi Serpong dan beberapa layar lagi. Masing-masing layar monitor berada dalam posisi normal, artinya tidak ada gejolak radiasi.

Saya bertanya apakah radiasi yang berada di rumah sakit berbahaya dan apakah bisa dideteksi lewat monitor seperti ini? Pak Qohar menjawab, bahwa alat-alat yang digunakan di rumah sakit cukup aman. Karena peralatan medis yang digunakan sudah didaftarkan di BAPETEN. Dengan begitu bisa diawasi penggunaanya. Adapun tanda kalau peralatan itu aman akan diberi stiker khusus.

Stiker tanda khusus di sekitar ada radiasi

Setelah selesai, grup saya melanjutkan tour office ke   ruangan lain. Adapun ruangan yang dikunjungi yaitu Ruang Subdit Keteknikan dan Laboratorium Proteksi Radiasi. Kalau saya bilang sih ruangan ini lebih mirip gudang. Karena di ruangan ini digunakan sebagai tempat menyimpan peralatan untuk mendeteksi kebocoran nuklir. Di salah satu sudut ruangan saya melihat ada manekin memakai baju yang biasa digunakan oleh orang untuk mengecek zat beracun. Saya tahu soal itu karena beberapa waktu lalu pernah melihatnya di tivi. Dua orang staff BAPETEN menerangkan dengan cermat setiap alat  yang ada di situ.

Baju yang digunakan untuk mengecek zat beracun atau radiasi

Akhirnya, kunjungan ke kantor BAPETEN pun selesai. Satu persatu peserta pulang dengan membawa segudang ilmu dan pandangan berbeda terhadap nuklir. Kini kami jadi makin mengerti kalau nuklir bukan sesuatu yang harus ditakuti. Karena semua urusan nuklir sudah ditangani  oleh BAPETEN. Nah, untuk lebih jelasnya lagi saya akan mengulas BAPETEN secara komplit.

 Mengenal BAPETEN 

Beberapa waktu lalu Jakarta pernah dikejutkan oleh teror Bom Radioaktif. Teror yang dilakukan oleh sekelompok orang berlabel teroris itu menakutkan banyak orang. Pasalnya teror tersebut bisa menyebabkan dampak berkepanjangan. Zat radiasi yang keluar ketika bom diledakkan  sangat membahayakan nyawa manusia.

Jauh sebelum itu terjadi, tahun 1950 ada indikasi percobaan ledakan nuklir oleh beberapa negara di kawasan Asia Pasifik utamanya Amerika. Dikhawatirkan zat radioaktif akan jatuh ke wilayah Indonesia. Untuk mengantisipasi hal itu, maka dibentuklah Panitia yang akan mengawasi penggunaan nuklir.

Sampai kurun waktu 1964 – 1997 Panitia tersebut berubah nama menjadi BATAN ( Badan Tenaga Atom Nasional ). Di samping mengawasi, BATAN juga bertugas melaksanakan riset tenaga nuklir. Seiring itu pula BAPETEN terbentuk dengan fungsi dan tugas yang sama. Akan tetapi kurang etis rasanya jika lembaga pengawas bersatu dengan lembaga riset. Maka berdasarkan pada UU No. 10/1997 BATAN dan BAPETEN dipisahkan.

Kini kita memiliki BAPETEN dengan tugas utamanya yaitu :

Mengawasi terhadap penggunaan tenaga nuklir

Nah…udah lega kan sekarang? Jadi, kita nggak usah takut lagi dengan nuklir yang notabene bisa mengeluarkan zat radioaktif jika terkena sesuatu. Semua masalah itu dapat diatasi oleh BAPETEN . Dengan sigap BAPETEN bakal mengatasi nya secara terstruktur dan kordinasi yang baik. Meskipun begitu lembaga yang memanfaatkan teknologi nuklir dalam aktivitasnya harus patuh pada peraturan BAPETEN. Dalam hal ini, BAPETEN memegang kendali penuh bahkan menjadi tugas yang berat. Meski bagaimanapun tenaga nuklir itu bak sisi mata pisau, bermanfaat tapi ada resikonya juga.

Gimana?

Cuz…ah untuk tetep taat pada aturan BAPETEN karena ini menyangkut nyawa orang lain juga lho… BAPETEN membuka lebar-lebar tiap pengaduan atau laporan dari masyarakat jika ditemui ketidak taatan pada lembaga atau instansi yang menyalah gunakan tenaga nuklir. Tanpa menutup-nutpi sampai saat ini BAPETEN memang masih kekurangan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang ini. Harapan saya, BAPETEN akan selalu siap siaga dalam mengawasi kendali nuklir di wilayah Indonesia. Yeee…kaaaan…

 

 

 

Simple dan konsisten

2
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
etybudiharjoBunda Sitti Rabiah Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Bunda Sitti Rabiah
Guest

Keren tulisannya mbak Ety semoga masyarakat pembaca mendapatkan pencerahan dari tulisan ini. Salam