Peluang Dan Tantangan Indonesia South Sea Pearl

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa kita tinggal di negara kepulauan terbesar di dunia. Keadaan geografis ini menjadikan Indonesia memiliki garis pantai terpanjang nomor dua setelah Kanada. Garis pantai  sepanjang 54.716 kilometer menjadikan Indonesia memiliki laut yang amat luas. Luas lautnya sendiri sekitar 70% dari luas daratan yaitu 5,8 juta kilometer. Rasanya sangat tepat bila kemudian Indonesia dikenal dengan julukan negara maritim.

Julukan negara maritim menjadi anugrah tersendiri bagi Indonesia, karena di dalamnya terkandung harta melimpah. Hasil laut berupa ikan, tambang dan panorama bawah laut menjadi kekayaan yang sangat bernilai. Bangga bercampur sedih, karena ternyata anugrah ini tidak bisa dikelola dengan baik.  Jika saja kita bisa mengelolanya dengan baik, maka hajat hidup orang banyak akan tercukupi. Sayangnya perilaku semacam itu bagai panggang jauh dari api. Pencurian ikan yang dilakukan oleh kapal-kapal asing terjadi hampir di seluruh laut Indonesia. Hasil tambang minyak lebih santer ributnya ketimbang eksplorasinya. Begitupula dengan panorama bawah laut dan tak mau ketinggalan si cantik putih berkilat, mutiara.

ipf6
Koleksi pribadi

Hmmm…mendengar kata mutiara, naluri kewanitaan saya langsung bergairah, ingatan saya adalah perhiasan. Wanita mana sih yang kalbunya nggak terusik mendengar perhiasan, apalagi berbalut mutiara. Eh, tapi ngomong-ngomong apa kabar dengan mutiara ? Rasanya hampir beberapa tahun ini saya tidak lagi mendengar kabar mutiara, apalagi mutiara Laut Selatan. Apakah dia sudah menghilang dari negri ini ? Atau sudah pindah kewarganegaraan gitu ? Ah, daripada kebanyakan pertanyaan mendingan kita cari tahu  jawabannya.

Rabu, 12 Oktober 2016 saya berkesempatan menghadiri acara Pre-Event 6thIndonesian Pearl Festival 2016. Acara yang akan diadakan pada tanggal 9-13 November mendatang ini sebagai salah satu upaya untuk lebih mengenalkan lagi mutiara pada khalayak. Loh kok bisa begitu ? Ya, karena selama ini kita tidak mengenal mutiara dengan baik bahkan merasa memilikinya pun tidak. Perilaku inilah yang akhirnya menjadikan mutiara tidak terkenal lagi di negrinya sendiri tapi lebih kesohor di negri orang. Selain itu acara ini juga sebagai tempat ajang bertemunya pebisnis mutiara dan kolektor. Di mana kedua belah pihak bisa bersinergi dalam dunia bisnis maupun kecintaan pada mutiara Laut Selatan.

ipf4

Padahal, menurut data perdagangan mutiara di dunia Indonesia menjadi produsen terbesar, sebanyak 70%.  Selain menjadi produsen terbesar, Indonesia juga menjadi penghasil mutiara terbaik karena unggul dalam kualitas. Mutiara terbaik yang terkenal itu, berasal dari daerah Lombok, NTB dan dikenal dengan nama Mutiara Laut Selatan. Masyarakat dunia mengenalnya dengan  Indonesian South Sea Pearl disingkat menjadi  ISSP. Ciri-ciri South Sea Pearl dari Indonesia yaitu warnanya keputihan kemilau seperti emas, warna tidak pudar sepanjang masa, nacrenya lebih tebal dan bentuknya bulat utuh serta licin.

Pada kesempatan yang sama, Mentri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pudjiastuti mengatakan, bahwa beliau tahu tentang kualitas mutiara Laut Selatan justru dari orang Amerika. Pernyataan Bu Susi ini karuan membuat semua undangan yang hadir terkejut, tanpa kecuali saya.  Ternyata judul lagu tentang mutiara yang hilang itu benar adanya. Pertanyaannya adalah kemanakah mutiara Laut Selatan Indonesia itu ?

ipf1

Sebatas yang saya tahu harga mutiara itu mahal, sangat mahal malah. Alih-alih, masyarakat Indonesia masih lebih memilih beli beras ketimbang beli mutiara. Karena itu mutiara hanya dimiliki oleh segelintir orang saja alias mereka yang berlebih secara ekonomi.   Mungkin hal ini yang menjadi penyebabnya atau mungkin salah satu penyebab mutiara mahal. Melihat kenyataan tersebut, saya jadi penasaran ingin tahu lebih banyak tentang mutiara yang hilang itu.

 Indonesia Penghasil Mutiara Laut Selatan Terbesar

Sejak tahun 2005 Indonesia menjadi negara penghasil mutiara terbesar dunia. Hal tersebut didasarkan pada hasil mutiara Laut Selatan Indonesia merupakan yang terbaik di kelasnya. Bentuk mutiara yang  sempurna  dapat terlihat pada saat diambil secara langsung dari cangkang tiram mutiara Laut Selatan. Lebih uniknya lagi, cangkang tiram mutiara yang dimiliki oleh Indonesia merupakan terlangka dan terbesar di dunia. Jadi hanya Indonesia satu-satunya negara yang memiliki tiram mutiara tersebut. Akan tetapi saat ini, ada beberapa negara lain yang juga memiliki tiram serupa hanya saja mereka tidak memiliki perairan seluas Indonesia. Beberapa negara yang memiliki tiram bernama ilmiah Pinctada Maxima ini adalah Myanmar, Filipina dan Australia jadi sekalipun mereka akan membudidayakan pasti sangat terbatas.

Tiram Pinctada Maxima ini ukurannya cukup besar sekitar 8 sampai 22 centimeter dan memiliki dua  warna bibir yaitu putih atau emas. Karena tiram mutiara ini besar, maka jenis mutiara yang dihasilkannya juga besar, yaitu berukuran 10 – 14 milimeter. Dengan begitu peluang Indonesia untuk menjadi negara penghasil  South Sea Pearl kualitas unggul sangat terbuka lebar.

issp4
South Sea Pearl ( dok. originalmutiara.com )

Mutiara South Sea Pearl  memiliki tiga warna yaitu putih, krem dan emas, di mana kesemuanya memiliki keindahan yang luar biasa. Tiram Pinctada Maxima banyak terdapat di Lombok, Kepulauan Indonesia Timur dan sedikit di beberapa wilayah lain seperti perairan hangat Australia, Filipina dan Burma. Tiram mutiara ini bisa dikatakan sudah langka dan memiliki kepekaan lebih tajam dari tiram lainnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa budidaya tiram ini jauh lebih sulit ketimbang tiram biasa.

Selain sulit, tiram ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan satu butir mutiara, sekitar 2 – 4 tahun. Sifatnya yang peka dan selektif menerima setiap rangsangan dari luar yang masuk membuat tiram berhati-hati. Kalau boleh saya menamakan, tiram ini bisa dijuluki tiram eksklusif, tidak bisa sembarangan plankton masuk ke dalam tiram. Padahal plankton itu sendiri merupakan makanan bagi si tiram, artinya lebih selektif dalam memilih makanan. Jadi wajar rasanya kalau mutiara yang dihasilkan lama dan harganya  sangat mahal dibanding mutiara jenis lainnya.

ipf5
Koleksi pribadi

Selain mutiara Laut Selatan masih ada beberapa jenis mutiara lagi, yaitu :

  • Mutiara Akoya, diberi nama sesuai dengan bentuknya yang kecil dalam bahasa Jepang Akoya artinya kecil, terdapat di perairan dingin Kepulauan Jepang. Berukuran kecil, mulai dari 2 – 6 milimeter kebanyakan berwarna putih, tapi ada juga krem, pink dan emas. Meskipun kesohorannya masih di bawah mutiara Laut Selatan, mutiara Akoya dianggap salah satu mutiara terbaik dan cukup populer di dunia.
  • Mutiara Tahiti atau Tahitian, diberi nama sesuai dari tempatnya berasal yaitu Kepulauan Tropis Tahiti. Namun belakangan ini mutiara Tahiti sudah bisa dibudidaya di tempat lain seperti Kepulauan Cook dan wilayah sekitar Pasifik Selatan. Memiliki ukuran lebih besar dari mutiara Akoya, karena tiramnya juga besar ukuran mutiaranya 10 – 14 milimeter. Dari warnanya mutiara Tahiti berbeda dari dua mutiara sebelumnya, dominan pada warna kehitaman hal ini dikarenakan adanya warna hitam dari bibir tiramnya. Selain hitam, mutiara Tahiti memiliki warna lain, yaitu kebiruan, keunguan atau kehijauan.

 

issp3
Black Tahitian Pearl ( dok.missjoaquim.com )
  • Mutiara Air Tawar, mutiara air tawar adalah mutiara yang tumbuh dalam lingkungan non garam, tiramnya hidup di air tawar. Bentuk mutiara yang dihasilkan dari budidaya tiram air tawar ini jarang sekali berbentuk bulat utuh, melainkan oval atau baroque ( tidak teratur ). Bahkan tidak jarang seringkali ditemui dengan bentuk seperti siput atau sayap, padahal bentuk mutiara air tawar Lombok yang hampir bulat adalah bentuk yang paling banyak diminati.
issp1
Mutiara air tawar ( dok.missjoaquim.com )

Karena ukurann tiramnya relatif lebih kecil dibanding tiram air laut, maka mutiara yang dihasilkan juga kecil ukurannya hanya 6 sampai 8 milimeter. Sepintas mutiara air tawar terlihat lebih mirip dengan mutiara Akoya, mutiara air tawar yang berkualitas baik disertai  harga terjangkau menjadi paling disukai oleh pasaran saat ini. Di samping itu mutiara ini memiliki warna cukup banyak yaitu, lavender, pink, peach, abu dan hitam. Sebagai pengetahuan aja mutiara dijual layaknya mas, yaitu dalam bentuk gram, satu gram mutiara asli harganya berkisar antara 300.000 sampai 500.000 rupiah. Sedangkan untuk mutiara South Sea Pearl bisa sekitar 5 juta per gramnya, kebayangkan harganya yang sepuluh kali lipat dari mutiara biasa ? Harga mutiara didasarkan pada beberapa faktor, salah satunya berdasarkan gradenya. Ada lima hal yang menjadi patokan dalam menentukan grade sebutir mutiara, yaitu :

  1. Luster ( kilau )
  2. Shape ( bentuk )
  3. Nacre ( lapisan warna )
  4. Surface ( permukaan )
  5. Size ( ukuran )

Kelebihan Mutiara South Sea Pearl

Sebenarnya untuk saat ini mutiara yang benar-benar dihasilkan oleh proses alami di Laut Selatan sudah sulit ditemukan. Jadi mutiara yang beredar saat ini merupakan hasil budidaya dari peternakan-peternakan mutiara. Daerah terbesar dari pembudidaya mutiara Laut Selatan berada di lombok, Bali, Sumbawa, Maluku dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan habitat dari tiram Pinctada Maxima, yaitu laut tropis yang hangat. Selain merupakan perairan  hangat, di perairan ini pula banyak hidup plankton-plankton yang mejadi makanan tiram Pinctada Maxima.

Pesona mutiara Laut Selatan memang tak tertandingi karena memiliki banyak kelebihan, yaitu memiliki nacre alami yang tebal dan megah. Kilau yang dihasilkan oleh mutiara Laut Selatan juga bersinar tiada bandingnya, cahayanya lembut dan bernada sejuk dalam pancaran cahaya berbeda-beda. Di situlah letak kelebihan dari mutiara Laut Selatan yang tidak dimiliki oleh mutiara dari daerah perairan lainnya.

Peluang Ekspor Mutiara Laut Selatan

Seperti sudah disinggung di atas soal kebutuhan mutiara dunia, Indonesia masih menguasainya sehingga menempati posisi teratas. Akan tetapi sekalipun sudah menduduki posisi teratas, faktanya kebutuhan mutiara dunia masih belum tercukupi. Bayangkan saja, dari 120 ton permintaan mutiara dunia, Indonesia hanya bisa memenuhi separonya saja. Padahal mutiara Indonesia memiliki potensi ekspor yang sangat tinggi. Dengan kata lain, kemilau mutiara Indonesia tidak sebanding dengan kesohoran namanya di dunia usaha mutiara Internasional.

Amat sangat disayangkan posisi teratas tersebut tidak diikuti dengan meningkatnya nilai ekspor mutiara. Saya jadi teringat pemaparan Ibu Susi Pudjiastuti saat acara kemarin, bahwa posisi  teratas dari kebutuhan mutiara dunia tidak serta merta meningkatkan nilai ekspor. Nyatanya pada tahun 2015 lalu, Indonesia hanya menempati urutan ke-9 perdagangan mutiara dunia dengan nilai ekspor sebesar US$ 29,4 juta atau setara dengan 2,07% dari total nilai ekspor seluruh jenis mutiara di dunia yang mencapai US$ 1,4 M. Jauh di bawah India, Jepang, Tiongkok, Australia, Tahiti, Amerika Serikat dan Inggris. Atau dengan Australia misalnya, yang mengklaim menguasai South Sea Pearl  dunia sebanyak 13% tapi memiliki nilai ekspor US$ 122 juta.

Nah, kalau Australia saja menguasai 13%  bisa mengekspor mutiara dengan nilai US$ 122 juta, mengapa Indonesia dengan penguasaan 70%  hanya senilai US$ 29,4 juta ? Dari sini timbul sebuah pertanyaan besar, kemanakah gerangan sisa mutiara yang belum diekspor tersebut ? Atau justru sebaliknya, sudah diekspor tapi tidak melalui jalur yang seharusnya alias ilegal. Oh tidak, jika hal ini sampai terjadi judul lagu “Mutiara yang hilang” menjadi benar-benar hilang entah berada di mana. Jadi dengan penguasaan mutiara dunia sebesar 70% tersebut, Indonesia seharusnya memiliki nilai ekspor lebih besar dari Australia.

Hmmm…fantastis sekali dengan nilai ekspor yang diterima saat ini, yaitu hanya sebesar US$ 29,4 juta. Berdasarkan hitungan ala kalkulator smartphone saya, bahwa terdapat kekurangan yang sangat signifikan. Sampai di sini saya hanya bisa tertegun, maunya sih bilang “Wow” tapi apa boleh buat saya benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mutiara Indonesia, khususnya South Sea Pearl.

Contohnya saja Nusa Tenggara Barat,  sebagai penghasil mutiara terbaik hanya bisa mengekspor mutiara sebesar 0,01%.  Padahal Lombok menguasai sebesar 43% South Sea Pearl. Adapun ekspor terbesar mutiara dari NTB adalah Malaysia ( US$47.192 Juta ) dilanjutkan Hongkong ( US$40.000 Juta).  Kuwait dan Tiongkok berada pada urutan berikutnya, di sinilah semua drama itu dimulai.

 Tantangan  Mutiara Laut Selatan

Bicara tentang dunia mutiara Indonesia memang sangat memprihatinkan. Usaha mutiara di Indonesia memang belum dijalankan secara optimal, banyak sekali faktor yang menjadi penghambatnya. Beberapa di antaranya adalah :

  1. Kemampuan untuk mengembangkan masih terbatas
  2. Kurang memiliki rasa kepemilikan dari dalam negri
  3. Rendahnya pengetahuan dan seluk beluk tentang ISSP
  4. Belum bisa memanfaatkan segi teknologi untuk pengembangannya

Dari keempat penghambat yang telah disebutkan di atas, masih ada faktor penghambat lainnya yaitu sertifikasi mutiara dari Pemerintah. Dampaknya, mutiara yang sudah diekspor ke berbagai negara dapat dengan mudah diklaim atau dilabeli oleh negara lain.  Keunggulan Indonesia South Sea Pearl   ini memang tak tertandingi, warna putihnya berkilau hingga memantulkan warna keemasan, sedangkan kilaunya tidak memudar sepanjang jaman. Padahal sertifikasi atau hak paten  tersebut dapat digunakan untuk menjaga keberadaan dan kepemilikan Indonesia South Sea Pearl.  Amat sangat disayangkan jika South Sea Pearl hilang begitu saja dan diakui oleh negara lain.

Tantangan dalam hal pengembangan atau budidaya misalnya, sebenarnya kerang/tiram yang dimiliki Indonesia yaitu Pinctada Maxima bisa hidup atau dibudidayakan di seluruh perairan Indonesia. Seperti yang sudah saya singgung di atas, bahwa Indonesia sebagai negara maritim menjadi anugrah luar biasa. Tapi nyatanya masih banyak perairan Indonesia yang belum terjamah untuk pembudidayaan mutiara ini. Bisa dibayangkan jika seluruh perairan Indonesia ditebar benih/indukan tiram South Sea Pearl maka bukan hanya isapan jempol belaka jika suatu saat nanti Indonesia akan menjadi negara pengekspor South Sea Pearl dengan kualitas nomor satu di dunia.

issp2
South Sea Pearl berdasarkan kedalaman ( dok.originalmutiara.com )

Begitupula dengan pengetahuan  Indonesia South Sea Pearl ( ISSP ), ternyata masih banyak pelaku bisnis mutiara khususnya pemula kurang begitu paham dengan mutiara. Saya rasa ini bukan masalah besar, bukankah ada Assosiasi Budidaya Mutiara Indonesia ( Asbuni ). Para calon pengusaha mutiara bisa menjadi anggotanya dan langsung aktif. Karena  salah satu fungsi dari Asbuni adalah menjembatani segala info tentang mutiara, baik seluk beluknya, penjualannya, budidayanya dan sebagainya. Kurangnya pengetahuan tentang mutiara ini juga dibenarkan oleh Joseph Taylor, seorang ahli biota laut asal Australia. Joseph Taylor dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia mengatakan, bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak tahu menahu soal kualitas mutiara, bagus atau tidak.  Lepas dari semua tantangan yang ada, rasanya belum ada kata terlambat untuk memulai usaha mutiara.

Sebagai info saja, pada tanggal 9 – 13 November 2016 mendatang akan diadakan Indonesia Pearl Festival di Lippo Mall Kemang. Pameran yang diadakan untuk ke enam kalinya ini membuka wawasan seluas-luasnya tentang mutiara. Menurut saya, jangan sampai kesempatan ini terlewatkan begitu saja. Dalam ajang IPF ini akan banyak acara digelar, sebut saja ada lelang mutiara, klinik mutiara, lomba desain mutiara, charity fun raising dan masih banyak lagi. Inilah saat yang tepat bagi para pebisnis pemula bergerak untuk menjadi pengusaha mutiara. Bukankah uraian saya di atas cukup membuktikan, bahwa dunia masih membutuhkan banyak mutiara dari Indonesia, terutama South Sea Pearl.

Nah, tantangan terakhir dalam segi teknologi mutiara, sampai saat ini teknologi mutiara masih dipegang oleh Jepang. Semua masyarakat dunia tahu, dalam segi teknologi apapun Jepang selalu nomor satu. Negara yang pernah menjajah Indonesia ini memang sangat terdepan dalam segi teknologi. Akan tetapi bukan berarti Indonesia tidak bisa belajar tentang teknologi mutiara tersebut. Dalam berita ekonomi yang dirilis CNN Indonesia menyebutkan, pusat trading mutiara laut termasuk South Sea Pearl masih tetap di Jepang dan hampir 80% dari semua jenis mutiara laut ( South Sea Pearl, Akoya dan Tahiti ) akan masuk ke Jepang lebih dahulu sebelum didistribusikan ke negara lain. Adapun pengerjaan yang dilakukan bisa bermacam-macam seperti cutting, label, pewarnaan dan sebagainya.

Beruntung dan bersyukur rasanya dua kata tersebut cukup mewakili apa yang sudah tersaji. Tuhan sudah menyediakan beragam fasilitas di bumi makmur dan penuh potensi ini. Semua tergantung pada penduduknya mau atau tidak mengolah dan kerja keras untuk menghasilkan sesuatu yang nyata-nyata sudah ditunggu oleh dunia pemutiaraan. Tepiskan semua sifat yang berbau leyeh-leyeh atau santai, di belahan dunia manapun kesuksesan itu diperoleh dengan kerja keras, bukan dengan cara menggandakan.

Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk memulai bisnis di dunia mutiara, datang ke acara 6thIndonesian Pearl Festival 2016  temukan kemilaunya dan raih keuntungannya. Jangan sampai ada orang asing yang lebih dulu mengambil kesempatan ini. Bukan suatu hal yang mustahil jika ada negara lain yang mengincar kekayaan laut Indonesia, khususnya mutiara. Jangan sampai nasib South Sea Pearl kita mengalami nasib yang sama dengan ikan, dicuri tanpa batas.  Ayo buktikan kalau kita BISA  !

Sumber tulisan :

  • m.liputan6.com
  • originalmutiara.com
  • missjoaquim.com
  • neraca.co.id
  • m.detik.com
  • cnnindonesia.com/ekonomi

Leave a Reply

52 Comments on "Peluang Dan Tantangan Indonesia South Sea Pearl"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Rahayu Pawitri
Guest

nek menurut aku yang awam, masalah terbesar ki yo itu mbak, ekonomi. Jadi ga banyak yang memperhatikan.
Anyway, baca artikel jenengan aku jadi tahu jenis-jenis mutiara. Selama ini tahunya ya putih doang he he he. Cantik-cantik yo..

agung han
Guest

Indonesia dengan segala kekayaan, spantasnya kuat di bidang ekonomi
mutiara bisa menjadi sumbe devisi juga ya mbak

wawaraji
Guest

Mutiara Laut Selatan keren yaah, concern sama isu ownership, kalau kita gak punya ownership sm potensi negeri sendiri ya gmn mau berkembang yak…haduh PR bgt emang tuh

inainong
Guest

lengkap tuntas dan terpercaya… keren deh ah *gentar akuuu*

bundashidqi lia
Guest

Masyaallah, gak nyangka Indonesia sebagai penghasil terbesar mutiara.. kaya rayaaaa

Eva Sri Rahayu
Guest

Dapet pengetahuan detail soal mutiara 😀

Eva Sri Rahayu
Guest

Waah dapet pengetahuan soal mutiara 😀

Jun
Guest

Wuidiiiiih… Kayanya negeriku… Harusnya rakyatnya hidup makmur. Banyak banget SDAnya. Mutiara salah satunya.

Yulia Rahmawati
Guest

Mutiara memang indah, apalagi mutiara dr pantai selatan yang terkenal dengan lautnya, pasti indah 🙂

Dian Anthie
Guest

Kerennnn tulisannya ^^

Kornelius ginting
Guest

Kalau dijadikan investasi, nilainya dimasa depan bagaimana mba

Nita Sundari
Guest

Ety….tengkyuh perimat inpona. Tulisannya enak dibaca n banyak ilmu yg didpt. Kerenlahhh….

Arina Mabruroh
Guest

Teman kuliah saya ada yang sekarang punya usaha Mutiara di Lombok. Kadang pengen beli, tapi ya itu… masih lebih butuh berasnya *eh.

Makasih Mba Ety, infonya lengkap sekali. jadi paham seputar mutiara dan tahu kenapa harganya bisa tinggi sekali

Choirul Huda
Guest

“Jangan sampai ada orang asing yang lebih dulu mengambil kesempatan ini. Bukan suatu hal yang mustahil jika ada negara lain yang mengincar kekayaan laut Indonesia, khususnya mutiara. ”

setuju mbak. kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi…
btw kalo liat foto2 kalung mutiara, jadi pengen koleksi euy… etapi, harganya ga kuat hi hi hi 🙂

nitalanaf
Guest

Ini kalau nanti festival mutiaranya udah dimulai, pasti seru dan menambahkan wawasan juga ttg kekayaan alam Indonesia ya.

dani
Guest

Makasih ilmunya tentang mutiara Mbak Ety. Jadi sedih kalau potensi sebesar mutiara ini tidak dapat dirawat dengan baik ya Mbk. Semoga ke depan akan bisa menjadi penyumbang signifikan perekonomian. 🙂

karmin winarta
Guest

wow indonesia memang memukau, tak hanya pesona alamnya namun juga kekayaan alamnya.mutara yang paling terkenal dari lombok ya? thx infonya yaa

Eko Nurhuda
Guest

Eh, ternyata mutiara berwarna hitam itu emang beneran ada ya? Saya kira cuma julukan buat tim sepakbola Persipura Jayapura aja. Hmmm, betapa kayanya kandungan lautan Indonesia. Dan itu semua belum digarap dengan maksimal. Bayangkan kalau bisa dimaksimalkan pengelolaannya, dan semuanya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Hehehe, maunya sih begitu 🙂

Liswanti Pertiwi
Guest

Waah mutiara, aku suka. Ternyata Indonesia mempunyai mutiara yang cantik-cantik ya.

Rosanna Simanjuntak
Guest

Ternyata mutiara banyak jenisnya ya, Baru tahu.
Semoga kayak judul lagu: mutiara yang hilang dulu… jumpaaa laaagi…

Tanti Amelia
Guest

Aku mau dong koleksi mutiaraaaaaa

Siti mudrikah
Guest

Keren ya Indonesia semoga bisa memaksimalkan potensi lautnya salahsatunya mutiara yang keren2 banget

emanuella aka nyonyamalas
Guest

Luar biasa potensi kekayaan laut Indonesia ya buuu… Smg makin maju teknologi di kita biar maksimal pemberdayaan petani mutiaranya 🙂

Hidayah Sulistyowati
Guest

Ternyata negeri kita memiliki kekayaan yang berlimpah ya mbak, bahkan mutiara pun menduduki tempat teratas. Sayang banget kalo tidak bisa menjadi negera pengekspor terbesar di dunia. Semoga bisa menjadi perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah serta pengusaha pribumi. Jadi pereknonomian daerah pun bisa bergerak lebih merata.

Anjar Setyoko
Guest

keren mbak ety budiharjo.., memang kita sudah di diberikan kekayaan alam yang begitu menakjubkan terutama mutiaranya, tinggal kita bisa mengolahnya untuk menjadikan sebuah nilai tambah bagi Indonesia.

Aira Kimberly
Guest

Mutiara yang hilang.. itu dulu. Ayoo, semangat! bikin lagu baru ..eh..bisnis baru.Bisnis mutiara! ^__^

wpDiscuz