Pindo Deli Melahirkan Tissue Bersertifikat Halal

Pindo11

Bukan sekali dua kali saya merasa ragu jika ingin menggunakan tissue sebagai pembungkus makanan. Alhasil saya selalu membungkusnya dengan kertas koran, meskipun saya tahu bahwa itu tidak bagus. Pikir saya, ah mendingan nggak baguslah daripada nggak halal. Begitupun untuk keperluan lain, misalnya membasuh wajah atau mengeringkan bagian intim. Sebenarnya ada cara yang lebih baik yaitu dengan membawa saputangan tapi ribetnya minta ampun. Terkadang masalah sepele begini bisa jadi membuat saya uring-uringan, bener sih “Hidup adalah pesta yang harus dirayakan”—taglinenya Mbak @emmykuswandari,  Media Affair – Corporate Communication Sinarmas.

Pindo4
Narsis di ruang kontrol

Lewat undangan dari seorang teman blogger yang baik hati dan tidak sombong, saya berkesempatan untuk mengeksplor pabrik pembuatan kertas. Salah satu produksi dari pabrik tersebut adalah tissue yang sepele tapi kadang membuat saya uring-uringan. Hari yang dinantipun tiba, Selasa 19/4 dengan menggunaka bus saya dan beberapa teman blogger lainnya serta rekan media berangkat ke Karawang menuju pabrik tersebut. Lama perjalanan yang memakan waktu hampir 2 jam nggak terasa, karena tim dari Sinarmas membuat perjalanan sangat menyenangkan.

Pindo2

Setibanya di tempat tujuan saya baru tahu bahwa PT. Pindo Deli, yang merupakan salah satu anak perusahaan dari Sinarmas adalah pabrik pengolah kertas. Jadi selama ini tissue dengan merk Passeo serta kertas foto copy bermerk Bola Dunia diolah di pabrik ini. Di bawah bendera Pindo Deli, semua proses itu dibuat untuk memenuhi kebutuhan kertas dalam dan luar negri. Sebagaimana kita ketahui, sejak era digital merambah ke seluruh dunia, telah mengubah perlakuan terhadap bahan bacaan. Dari semula berbentuk paperbook menjadi ebook. Tentu saja hal ini berdampak pada industri kertas, di satu pihak memang menjadi keseimbangan alam yang signifikan. Dalam tulisan ini saya tidak menyorot soal penggunaan kertas, tapi lebih memberikan pengalaman bagaimana kertas itu diolah hingga sampai ke tangan konsumen.

Kertas Tetap Dibutuhkan Sepanjang Masa

Masih ingat film layar lebar berjudul “Perahu Kertas”  ? Dari judulnya saja sudah banyak mengandung filosofi hidup, begitulah kertas. Sejak pertamakali ditemukan oleh Tshai Lun ( Cai Lun – 105 M ) kertas menjadi simbol peradaban dunia. Di situlah peradaban manusia muncul baik berupa tulisan maupun gambar atau lukisan di atas kertas. Dan sampai sekarang keberadaan kertas masih dianggap sebagai kultur budaya modern. Tak peduli dengan munculnya era digital, kertas sebagai bahan dasar tulisan dan gambar tetap menjadi nomor satu.

Sedangkan untuk komoditi, fakta yang ada membuat mata saya terbelalak. Betapa tidak ternyata  Indonesia masih terbilang sangat rendah ( 32,6 kg per kapita ) dalam menggunakan kertas jauh di atas Negara-negara maju seperti USA ( 324 kg ), Belgia ( 295 kg ) Jepang ( 242 kg ). Padahal saat ini dunia sedang membutuhkan 394 juta ton dan diperkirakan akan terus meningkat ( sumber CNN Indonesia ). Hmmm…saya kira Negara maju tersebut sudah tidak membutuhkan kertas lagi karena debut digitalnya lebih kenceng ketimbang Indonesia, ternyata tidak.

Tour Of Paper Dimulai

Setibanya di Pindo Deli, acara pertama breefing dari pihak perusahaan dalam kesempatan ini diwakili oleh Pak Andar. Dalam sesi ini Pak Andar memberikan sedikit informasi tentang berdirinya PT. Pindo Deli serta misi dan visi dari pabrik kertas ini. Proses pembuatan kertas juga disampaikan dari bagian produksi begitu pula dengan pengenalan mesin-mesin yang dipergunakan untuk mengolah kertas. Setelah kurang lebih satu jam, acara dilanjutkan dengan mengunjungi pabrik, tempat di mana kertas dibuat mulai dari pulp ( bubur kertas ) hingga menghasilkan kertas.

Pindo10
Pak Andar sedang memberikan breefing

Nah, ini dia nih acara yang ditunggu-tunggu karena pabriknya cukup jauh kami diantar dengan menggunakan bus. Kawasan pabrik seluas 45 Ha ini lebih nampak sebagai hutan lindung ketimbang pabrik, karena sepanjang perjalanan mata saya dimanjakan oleh jejeran pohon Akasia dan Pinus. Sebagaimana kita ketahui, bahan baku pembuatan kertas berasal dari kedua pohon ini. Setelah melewati beberapa blok tempat masing-masing produksi tibalah kami di pabrik khusus pembuatan kertas.

Pindo9

Namanya juga pabrik, kedatangan kami disambut oleh suara bising dan wow…naik tangga pulak ! Bagi saya ini sangat amazing, mengingat dah beberapa lama tidak turun naik tangga. Hehehehe… pikir saya lumayanlah bisa sekalian menurunkan berat badan. Lalu, kami langsung diajak berkeliling di sekitar area pabrik dengan peralatan keamanan yang super lengkap, yaitu helm, earing dan masker. Bukan hanya itu, sebelum berkeliling kami juga dibreefing singkat tentang tata tertib di area tersebut, misal saja jangan berjalan melewati garis kuning.

Pindo8
Salah satu mesin yang ada di pabrik

 

Pindo6
Rambu-rambu peringatan bagi karyawan

Maka dimulailah proses panjang itu, mulai dari pulp atau yang lebih dikenal dengan bubur kertas hingga menjadi lembaran kertas dengan berat 30 ton tiap gulungan. Banyak tahap yang dilalui dalam pengolahan kertas, semua dilakukan dengan mesin modern. Bukan hanya mesinnya saja yang modern, industri ini juga dipantau dengan sangat akurat melalui komputer di ruang kontrol. Pindo Deli melakukan hal yang sangat luar biasa, apalagi kertas ini juga diekspor jadi harus memiliki kualitas ekspor.

Pindo1
Kertas yang masih berupa gulungan

Sebenarnya saya cukup bangga dengan pencapaian Pindo Deli, karena Indonesia sudah bisa menduduki peringkat ke 6 sebagai Negara pengekspor kertas dunia dan peringkat ke 9 pengekspor pulp. Mengingat masih banyaknya kebutuhan kertas dunia, Pindo Deli terus berupaya mengejar ke arah itu. Tentu saja apa yang dilakukan Pindo Deli tidak semata-mata mengabaikan segala cara. Saya melihat dan mendengar sendiri secara langsung bahwa Pindo Deli telah melahirkan tissue dengan sertifikat halal. Sebuah pencapaian terbesar untuk skala produksi karena Pindo Deli bisa menangkap peluang agar bisa mengekspor kertas khususnya tissue ke negara muslim dunia.

Pindo15
Sertifikat halal MUI ( gbr paling kanan )

Lepas dari pro kontra penggunaan kertas, sebaiknya memang dalam hal apapun gunakan kertas dengan bijak. Dunia baca masih sangat membutuhkan kertas karena masih banyak masyarakat yang belum mampu untuk menerima dunia digital. Dan hasil kunjungan ini, juga memberikan saya pelajaran berharga bahwa kertas diolah bukan untuk memubazirkan sebuah usaha tapi lebih pada memanfaatkan hasil alam. Selagi semua itu diperuntukkan bagi kepentingan peradaban manusia rasanya sah-sah aja.

Kesan saya sih buang jauh-jauh sifat keserakahan karena di manapun dan apapun akan menghasilkan sesuatu yang buruk. Perjalanan sehari ini memang sarat dengan ragam ilmu pengetahuan dan dedikasi yang tinggi mulai dari level bawah hingga atas. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan para pembaca blog saya, baik yang setia maupun yang selingkuh…#eh apa sih.

Sampai jumpa ditulisan saya berikutnya !

Pindo14

Leave a Reply

10 Comments on "Pindo Deli Melahirkan Tissue Bersertifikat Halal"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Tanti Amelia
Guest

Mbak Ettyyyyy tulisannya supeeerrrrr sekaleeeee

Choirul Huda
Guest

salah satu pengalaman berkesan saya sepanjang 2016 nih mbak 🙂
btw, tisu sekarang udah kbbi, jadi penulisannya bisa pake tisu atau tissue (diksi)

Liswanti
Guest

Tulisan mba Ety, kece deh ah. Banyak ilmu yang didapatkan dari kunjungannya ya mba.

Ririe Khayan
Guest

Alahdulillah, sekarang sdh ada tisyu halal ya Mbak

evrinasp
Guest

wuihhhh tisu pun bersertifikat halal, susah lho menjamin kehalalan, management kualitasnya sudha TOP banget berarti

wpDiscuz