Artikel Umum

Pujiutami, Mengukir Sampah Jadi Mewah dan Berkah

Perjalanan dengan ojek online kali ini tidak dibumbui oleh drama macet. Padahal, konon katanya daerah yang bakal saya lalui terkenal macet! Apalagi pada jam-jam pulang kantor seperti sore ini. Buat saya, macet di Jakarta itu hal yang lumrah. Ojol yang saya tumpangi terus melaju, kadang melewati jalan pintas di perumahan-perumahan. Sesekali saya bertanya pada abang ojek, apa masih jauh? Dengan sedikit berteriak abang ojek menjawab, enggak Buuu..!

Setelah hampir setengah jam lebih, perjalanan sampai juga di tujuan. Sedikit agak ragu, saya bertanya lagi pada abang ojek,” ini bener tempatnya? Si abang menjawab, “kalau ikutin googlemaps sih bener Bu. Lalu, saya turun dari motor dan langsung disambut oleh seorang Ibu berkaos merah. “Bu Ety yaaa…?”tanyanya ramah. “Iya betul. Saya mau bertemu dengan Bu Tami. Saya sudah janji dengan beliau,”jelasku. “Saya Bu Tami,” jawab perempuan berkaos merah seraya mengulurkan tangan. Kamipun bersalaman. Senang rasanya, kedatangan saya disambut langsung oleh Bu Tami. Kemudian Bu Tami mengajak saya masuk ke dalam, bukan sebuah rumah mewah atau restaurant ber AC. Ya, pertemuan saya kali ini sangat berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pertemuan biasa, di tempat biasa tapi dengan seseorang yang luar biasa.

Tempat berukuran 3 x 3 meter itu lebih tepat disebut pendopo. Pendopo yang dipakai merangkap kantor dan tempat pelatihan daur ulang sampah. Sungguh, bukan tempat yang mewah bukan? Jangankan pendingin ruangan, sofa empuk juga tidak ada. Udara sejuk justru datang dari hembusan angin. Di sekeliling pendopo memang terhampar kebun sayur yang subur dan menyejukkan mata.

Kika : Saya, Bu Popy, Bu Tami dan Bu Susi

Oh ya, kedatangan saya ke sini memang bukan tanpa alasan. Naluri saya sebagai warga Jakarta tergerak ingin mengenal sosok Bu Tami lebih dekat. Lewat media sosial instagram saya mengenal beliau sebagai salah satu nominator awards yang diselenggarakan oleh akun instagram @ibu.ibukota. Saya sendiri seringkali tergelitik jika mengetahui ada perempuan atau seorang Ibu yang penuh inspirasi.

Keingintahuan saya sangat besar tentang aktivitas Bu Tami. Saya ingin tahu apa saja aktivitas beliau hingga perjalanan mengantarnya menjadi nominasi awards tersebut. Apa sih langkah yang sudah beliau perbuat? Hal itulah yang mendorong saya ingin mewawancarai beliau. Maksudnya tidak lain agar kisah tersebut bisa menginspirasi Ibu-ibu dan kaum perempuan. Bagi saya ini sebuah kolaborasi yang ciamik, Bu Tami yang berperan dan saya mengangkatnya dalam sebuah kisah inspirasi.

Dan, inilah hasil wawancara saya dengan Bu Tami yang saya rangkum dengan segenap hati…

Sebelum wawancara, Bu Tami mengajak saya berkeliling kebun dulu. Saya pun tidak menolaknya, bagi saya ini tawaran yang sangat langka. Di mana lagi saya bisa berkeliling kebun sayur di megahnya Jakarta? Sedangkan saat ini, kebun itu sudah di depan mata. Kebun nan asri dan subur, bukan di luar kota tapi dekat dengan saya di salah satu sudut wilayah Jakarta Selatan.

Tour mengelilingi kebun sayur di mulai dari tanaman obat-obatan. Dengan piawai Bu Tami menjelaskan nama tanaman obat-obatan. Sesekali tangan mungilnya memetik daun yang kering atau memperbaiki letak tanaman. Satu persatu, beliau mengenalkan pada saya bukan hanya tanaman obat saja tapi juga sayur-sayuran.

Bu Tami dengan tanaman obat

Setelah keliling kebun sayur, Bu Tami mengajak saya ke tempat lain masih di sekitar situ juga. Letaknya di sebelah kiri pendopo, untuk mencapai ke sana kami harus melintasi pendopo. Tak disangka kalau tempat yang kami datangi adalah tempat sampah. Lebih tepatnya lagi tempat mengolah sampah. Hah…tempat sampah? Bau dan kotor dong! Inilah yang bikin saya takjub,! Tempat sampah yang kami datangi jauh dari kata bau dan kotor. Bahkan sama sekali tidak menampakkan kumuh, seperti tempat sampah kebanyakan. Ia pun menerangkan tempat tersebut dengan singkat dan jelas. Kami nggak berlama-lama di situ, karena hari sudah mulai gelap.

Tempat pengolahan kompos

Kembali ke pendopo sudah ada dua orang ibu-ibu relawan. Jadilah obrolan kami semakin hangat. Rasa akrab langsung kami rasakan, seperti sudah kenal cukup lama. Ah, namanya ibu-ibu kalau sudah kumpul pasti banyak yang diobrolin. Buat saya tidak jadi masalah, selagi obrolannya bisa memberi dampak positif.

Kompos hasil olahan Akademi Kompos

Mengenal Sosok Bu Tami

Sarwo Indah Pujiutami-biasa dipanggil akrab Bu Tami memang bukan orang terkenal apalagi pejabat publik. Beliau adalah seorang warga Jakarta biasa, sama seperti saya. Jabatan ketua PKK RW 08 Petukangan Selatan yang diembannya membuat Bu Tami tak berkutik. Mau tidak mau ia harus memikirkan bagaimana cara menggerakkan warga, terutama kaum Ibu. Dalam hati kecilnya, ia tidak menolak sama sekali untuk berkegiatan. Meskipun ia sendiri masih tercatat sebagai karyawan di perusahaan swasta. Apalagi setelah ia tahu bahwa kas PKK saat itu minus, artinya lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan. Kondisi ini tentu saja akan menghambat aktivitas dan program-program kesejahteraan warga.

Laksana nyiur diterpa angin, alam pikirannya terus bergerak bagaimana caranya supaya kas PKK ada pemasukan. Keinginannya sederhana, ia ingin agar PKK yang dipimpinnya bisa mandiri dan memberi manfaat. Kalaupun harus berjualan, apa yang harus dijual? Belom lagi soal modal yang mungkin nggak sedikit. Dalam keadaan kepepet itulah tercetus sebuah ide ingin berkebun. Dengan menggunakan lahan kosong di kompleks perumahan ia mulai menanam sayur mayur. Hasil dari kebun dijual kepada warga sekitar, dan hasilnya masuk ke kas PKK.

Melihat kegigihan Bu Tami dan Ibu-ibu penggerak PKK berkebun, salah seorang warga yaitu Bapak. Drs. Artomo menyuruh untuk memindahkan kebun. Nah, kebun yang sekarang ada di sekeliling pendopo ini adalah kebun baru. Bersamaan dengan itu, Pak Artomo juga sedang giat mengolah sampah jadi kompos. Mereka pun bersinergi yaitu kebun Ibu-ibu PKK dan kompos. Karena kompos yang dihasilkan digunakan di kebun itu juga. Lama kelamaan, pengolahan kompos semakin maju dan diserahkan kepada Ibu-ibu PKK untuk selanjutnya dikelola. Tentunya dengan senang hati Ibu-ibu PKK di bawah pimpinan Bu Tami menerimanya.

Struktur organisasi PKK RW 08 Petukangan Selatan

Inilah awal mula berdirinya Akademi Kompos sekitar pertengahan tahun 2013. Akademi Kompos memang tergolong unik. Pasalnya, Akademi Kompos tidak memiliki gedung layaknya pendidikan akademi. Uniknya lagi mahasiswa yang tercatat di Akademi Kompos mayoritas ibu-ibu berusia senja. Meskipun Akademi Kompos tidak memiliki mata kuliah tapi tetap mengedepankan misi. Adapun misi dari Akademi Kompos adalah membangun fasilitas pendidikan dan pelatihan pelestarian lingkungan, komposting, bank daur ulang sampah dan kebun tanaman organik yang didesain dengan konsep pedesaan. Sedangkan tujuannya adalah menciptakan lingkungan pemukiman yang bersih, hijau, asri dan sehat serta berguna bagi lingkungan sekitarnya.

Waktu terus berjalan, tanpa terasa Akademi Kompos sudah berjalan satu tahun. Hasil kasat mata yang didapat dari Akademi Kompos adalah kebun sayur. Seperti saya sudah katakan sebelumnya, selain dijual kompos yang diproduksi juga digunakan untuk memupuk tanaman.

Dengan menggunakan lahan milik perumahan, PKK RW 08 memiliki kebun sayur. Inovasi dan strategi terus dikembangkan oleh Bu Tami, sebagai penggerak utama. Hingga sampailah pada ide pembentukan Bank Sampah. Ide ini muncul karena selain sampah organik terkadang ada juga nasabah yang membawa sampah anorganik. Kalau sampah anorganik hanya satu atau dua kilo masih nggak masalah tapi kalau sudah sampe berkilo-kilo akan membuat masalah.

Terbentuknya Bank Sampah

Setelah segala persiapan dilakukan, ia mengundang warga untuk berkumpul di Mesjid yang berada di komplek perumahan. Dengan iming-iming doorprice dan sembako murah, warga sekitar RW 08 pun berdatangan. Di situlah ia menawarkan pada warga siapa yang mau jadi relawan Bank Sampah. Sungguh, sangat di luar dugaan warga sangat antusias dengan program Bank Sampah ini. Mereka dengan suka hati mendaftar jadi relawan Bank Sampah. Sayangnya seiring perjalanan waktu beberapa warga mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Salah satu alasannya adalah dilarang oleh keluarganya mengolah sampah. Dalam pandangan mereka mengolah sampah itu aktivitas yang menjijikan dan memalukan.

Bu Poppy dengan tas daur ulang sampah anorganik

Berkurangnya relawan membuat Bank Sampah agak tersendat-sendat beroperasi. Suka yang dirasakan oleh Bu Tami hanya sekejap saja. Akan tetapi ia tidak bergeming sedikitpun apalagi mengeluh. Mengeluh merupakan bagian terkecil dari putus asa, dan ia tidak mau terjebak dalam kondisi itu. Pikirnya, ini semua hanyalah proses yang memang harus dilakoni dan belum saatnya bersenang hati. Meskipun begitu, waktu telah mencatat tahun 2014 telah berdiri Bank Sampah PKK RW 08.

Catatan waktu ini menjadi cambuk bagi Bu Tami agar terus maju. Ia tidak mau kehadiran Bank Sampah hanya teronggok layaknya sampah sesungguhnya. Bukan Bu Tami namanya jika tidak menemukan solusi cepat dan tepat. Pasalnya sampah anorganik mulai menumpuk jika dibiarkan akan menimbulkan masalah baru. Masalah lama saja belum bisa terpecahkan, malah timbul masalah baru. Kejernihan pikiran dan niat yang tulus menggelorakan sebuah kalimat dalam dadanya, berikut kutipannya :

“Jangan mengajak masyarakat dengan memaksa, tetapi jadilah contoh bagi mereka.”

— Bu Tami —

Berangkat dari kalimat itulah ia dengan didampingi 15 relawan setianya melanjutkan kembali Bank Sampah. Bahkan salah satu relawannya ada yang berkebangsaan Amerika. Mereka bekerja tanpa kenal lelah, jijik apalagi bau. Semua rasa itu di kesampingkannya. Ia sadar bahwa dengan memberikan contoh pasti akan menggugah kembali kesadaran masyarakat agar mau menjadi relawan Bank Sampah. Selain itu, Bu Tami juga menawarkan posisi bagi relawannya. Jadi siapa yang nggak mau mengolah sampah bisa duduk di bagian admin Bank Sampah. Hingga pada akhirnya lambat laun, masalah relawan sudah bisa teratasi. Sayangnya, persoalan tidak hanya berhenti di situ saja. Timbul masalah lain lagi bahkan lebih ekstrim dari masalah sebelumnya, yaitu berkurangnya nasabah Bank Sampah. Alhasil, Bu Tami harus memacu kembali ide-ide menyangkut Bank Sampah. Maka muncullah beberapa ide yang kemudian menjadi program Bank Sampah.

Bu Tami dengan hydroponiknya

Ada tiga program unggulan dari Bank Sampah, yaitu : tukar takjil dengan sampah, membeli sembako dengan sampah, dan pinjam uang diangsur dengan sampah. Kemudian ia pun mensosialisasikan program tersebut kepada seluruh warga khususnya RW 08 dan masyarakat sekitar. Bersyukur, usaha kesekian kalinya ini membuahkan hasil. Warga RW 08 dan masyarakat sekitar kembali aktif menjadi nasabah.

Hingga sampai saat ini telah tercatat nasabah Bank Sampah mencapai 564. Dari 564 nasabah terdiri dari dua kategori, sebanyak 525 individu dan 39 kelompok. Kerja keras dan kesabaran yang dilakukan oleh Bu Tami dan relawan telah menghasilkan omset 6,2 juta tiap bulan dengan margin keuntungan 1,9 juta. Sedangkan sampah yang sudah berhasil diolah sebanyak 27 ton. Jangan bayangkan bagaimana menumpuknya sampah-sampah itu jika tidak cepat dikelola oleh Akademi Kompos dan Bank Sampah.

Buah ciplukan di kebun PKK RW 08

Secara angka, pencapaian ini sudah sangat luar biasa. Siapa sangka jika ternyata sampah yang nota bene barang limbah dan harus dibuang memiliki nilai jual. Tidak tanggung-tanggung harganya sangat fluktuatif, sesuai dengan keadaan. Sayangnya Bu Tami tidak melihat angka sebagai simbol keberhasilan apalagi kesuksesan. Karena sejatinya kesuksesan itu adalah ketika ia bisa melalui proses demi proses pencapaian.

Saya tertegun dengan konsep hidup beliau, lebih tertegun lagi karena pribadinya yang lemah lembut. Jauh dari yang saya pikirkan sebelum bertemu. Ternyata di balik pribadi itulah tersembunyi sebuah konsep rahasia kesuksesan dan kerja keras tiada henti. Saya baru pertama kali bertemu, tapi sudah merasa sangat akrab. Bicara tentang sampah dengan Bu Tami menambah kesadaran dalam diri saya. Jangan menyepelekan soal sampah. Sampah bisa menjadi sahabat jika kita memperlakukannya dengan baik. Atau sebaliknya, sampah bisa jadi musuh jika kita mencampakkannya.

Lestari Lingkunganku Lestari Jakartaku

Kehadiran Bank Sampah memang sangat menguras tenaga dan pikiran. Jauh berbeda dengan Akademi kompos. Namun begitu keduanya adalah solusi yang paling tepat dalam menangani masalah sampah di Jakarta. Saya juga menanyakan apakah kegiatan beliau mengganggu aktivitas keseharian? Mengingat beliau juga memiliki keluarga yang harus mendapat perhatian. Dengan lemah lembut Bu Tami menjawab, bahwa keluarganya sangat mendukung kegiatan ini. Selain memang ia dan relawannya banyak memiliki waktu longgar. Daripada berdiam diri di rumah atau gossip sana sini akan lebih baik jika mereka melakukan sesuatu yang positif. Sambil terus memicu pikiran mencari inovasi agar Bank Sampah selalu mendapat tempat di hati masyarakat.

Nyatanya Akademi Kompos dan Bank Sampah yang digawangi oleh bu Tami dijadikan percontohan. Beberapa komunitas dan organisasi baik dalam dan luar negri menyambangi Akademi Kompos untuk belajar. Mereka belajar bagaimana mengolah sampah tanpa mengganggu lingkungan sekitar.

Young Leadership Daichi Japan ( dok. bu Tami )

Sungguh, sebuah sumbangsih yang tak ternilai dari seorang warga Jakarta demi melestarikan lingkungan. Sebagaimana diketahui bahwa sampah menjadi persoalan yang pelik di Jakarta. Akan tetapi di tangan Bu Tami sampah diukir menjadi barang mewah pembawa berkah pula.

American Women Association ( dok. Bu Tami )

Sebagai bentuk edukasi pada masyarakat Bu Tami juga menyerukan strategi tiga pintu. Apakah strategi tiga pintu itu?

Pintu depan; adalah pra konsumsi yaitu kita harus memikirkan secara matang dan melakukan perencanaan sebelum berbelanja. Bawalah selalu tottebag sebagai pengganti kantong plastik. Selain itu prioritaskan belanjaan dalam kemasan besar, maksudnya agar mengurangi sampah anorganik.

Pintu tengah; adalah kita harus berpikir efisien dalam hal berbelanja yaitu hanya belanja yang sesuai dengan kebutuhan saja. Membeli produk yang bisa diisi ulang dan memakai barang yang masih layak pakai.

Pintu akhir; adalah sisa konsumsi sampah organik dapat dijadikan kompos sedangkan anorganik bisa disetor ke Bank Sampah. Selain itu biasakan hidup yang bisa menjaga kelangsungan hidup bumi, seperti hemat air, listrik dan bahan bakar. Gunakan transportasi umum dan berjalan kaki.

Di penghujung wawancara, saya menanyakan hal yang sedikit menggelitik. Pertanyaan ini berkaitan erat dengan perilaku sehari-hari warga Jakarta tercinta ini. Begini, bagaimana sikap Ibu jika melihat tetangga yang membuang sampah sembarangan. Dan, Bu Tami pun menjawab dengan lugas dan tegas, bahwa ia akan meminta sampah tersebut. Selanjutnya, ia juga mengedukasi sang tetangga agar mengumpulkan sampahnya. Atau membawanya ke Bank Sampah yang ada di perumahan tersebut. Mendengar kata Bank Sampah, tetangga itu pun terkejut masa iya sih di perumahan elite ada Bank Sampah?

Kiri : Bu Tami
Kanan : Saya

Nah, ini juga yang membuat saya terkejut. Waktu perjalanan ke sini, saya sempet ragu karena googlemaps nya mengarah ke perumahan elite. Apa bener Akademi Kompos dan Bank Sampah ada di perumahan elite? Keraguan saya seketika itu sirna, manakala kedatangan saya disambut langsung oleh Bu Tami. Apalagi ketika Bu Tami mengajak saya melihat tempat pengolahan sampah dan kompos. Bayangan saya soal tempat sampah yang kumuh dan jorok lenyap saat itu juga.

Realita ini telah menepis anggapan yang selama ini sudah mendarah daging di masyarakat. Bahwasannya tempat pengolahan sampah itu pasti jorok, kotor dan bau. Tapi, hal itu nggak berlaku bagi Bank Sampah yang dikelola oleh Bu Tami dan Ibu-ibu penggerak lainnya. Akademi Kompos dan Bank Sampah yang berada di perumahan elite tidak mengganggu lingkungan dan warga sekitar. Justru sebaliknya, keberadaanya membuat lingkungan jadi asri dan berseri. Waktu saya berkunjung ke sana aja, saya betah berlama-lama di pendopo. Hijau daun sayur mayur dan tanamam obat mampu membuat mata jadi segar kembali. Nggak percaya? Silakan kunjungi sendiri saja ke sana.

Sembako bayar pakai sampah

Bu Tami telah melakukan #AksiHidupBaik dengan cerdas dan penuh strategi. Semua dikerjakan secara detail dan penuh perincian mulai dari hulu ke hilir. Dalam hati saya berkata, apa yang sudah dilakukan beliau bukan sekedar inspirasi belaka tapi patut dicontoh oleh semua masyarakat khususnya warga Jakarta. Bu Tami memang pantas menjadi seorang penggerak bagi warganya. Karakternya yang tegas dan kepribadiannya yang lembut membuat warga terhipnotis oleh ide-ide cemerlangnya. Saya juga menyaksikan sendiri, beliau begitu dicintai baik oleh para relawan maupun pekerja di Akademi Kompos.

Dikunjungi anak-anak sekolah

Ketegasan lain yang saya lihat, bahwa Bu Tami begitu mencintai kelestarian hidup lebih dari mencintai dirinya sendiri. Buktinya, tak ada polesan menor atau gincu merah menyala di wajahnya. Namun begitu aura kecantikannya tetap memancar meski ia harus berkubang sampah. Jakarta butuh sosok seperti Bu Tami yang peduli pada lingkungan dan sampah. Dan, Bu Tami pun punya mimpi tentang Jakarta ia ingin kalau Ibukota tercinta ini bisa bebas dari sampah meskipun perlahan. Ia ingin tiap sudut Ibukota bersih, berseri dan memiliki ruang terbuka hijau lebih banyak. Ia juga ingin sebelum Ibukota ini benar-benar pindah bisa melihat Jakarta yang semakin bersih jiwa dan raganya.

Simple dan konsisten

35
Leave a Reply

avatar
17 Comment threads
18 Thread replies
1 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
18 Comment authors
Hanni HandayaniSuzannitaApril TupaiUtie adnuzefy Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
riyardiarisman
Guest

Yampun…. Aku berharap bgt bnyk sosok seperti Ibu Tami lainnya yang hadir di Jakarta ini, sebagai penggerak dengan memberikan aksi dan contoh langsung! Kerennnnnnn…..

Diah Woro Susanti
Guest

Bagus ya mba programnya. Cta-cita bu menkes Nila Moeloek utk kembali ke pengobatan alami kesampean nih.

Kang Dudi
Guest

Asyik liat orang yang bisa memanfaatkan ruang menjadi lebih produktif seperti Ibu Tami

Yulia Rahmawati
Guest

Tdk banyak yang mau mengelola sampah. Sosok yang inspiratif, Mbak…

Muthiah Alhasany
Guest

Luar biasa. Sangat inspiratif. Kita membutuhkan banyak figur seperti Bu Tami di negeri ini.

Syaifuddin sayuti
Guest

Mau dong belajar soal sampah. Minta alamatnya dong siapa tahu bisa berguru

Syaifuddin sayuti
Guest

Keren bu Tami. Jakarta butuh banak sosol seperti beliau

Fendi Haris
Guest

Banyak orang menganggap bahwa sampah adalah hal yang menjijikkan dan wajib dibuang jauh jauh dari pandangan serta kehidupan. ini bagi “orang yang berpikirnya masih dibilang belum kreatif”. berbeda dengan sosok inspirasi di artikel ini yaitu Bu Tami. saya mengapresiasi full usaha menjadi Bank Sampah dan paling menjadi idola saya dalam mengumpulkan masyarakat “Bu tami melalui cara doorprize dan hadiah sembako”.. sungguh ide cerdas yang wajib kita contoh.

Gita Siwi
Guest

wah apresiasi sangat kalau ada perempuan yang sangat peduli dengan lingkungan untuk kemaslahatan orang banyak. Maklum aku iuran sampahnya lumayan 180ribu/bulan huhu hu…

lendyagasshi
Guest

Aku salut sama orang-orang yang konsisten dalam melakukan sebuah langkah kecil menuju kebaikan bersama.
Di Bandung, aku punya sahabat yang cinta banget sama sampah. Sehingga konsisten mengedukasi masyarakat dari mulai anak-anak hingga dewasa akan pentingnya mengelola sampah dengan benar.

Semoga Bu Tami selalu menginspirasi.

NurulRahma
Guest

jangan mengajak masyarakat dgn memaksa
jadilah contoh bagi mereka
Duh, pesan ini luar biasa ya Ibuuu
Salut, saluuutt dgn Ibu Tami

Ety Abdoel
Guest

Selalu salut dengan orang yang mampu menjadi penggerak kebaikan.
Luar biasa Bu Tami itu. Melihat tumbuhan hijau yang rimbun di Jakarta, kek oase.
Moga makin banyak masyarakat yang memiliki kesadaran mengolah sampah dan menghijaukan lingkungan. Agar persoalan sampah dan polusi bisa terkurangi.

Fenni Bungsu
Guest

Daku setuju nih Bunda Ety, perencanaan sebelum berbelanja itu dibutuhkan. Kalau kata kakakku malah di catat biar gak lupa, jadi ketahuan yang harus dibeli apa dan yang nggak

zefy
Guest

Betul, kalau memaksa itui gak akan ada akhirnya, lebih tepat memakai metode contoh. Jika kita menjadi contoh, maka yang lain akan meniru.

Utie adnu
Guest

Bener ya mba kalau sudah di olah sampah plastik jadi bermanfaat banget dah gitu gak nyangka jadinya bagus hasilnya,, intinya hrus bijk berplastik PILAH sampah yang bener

April Tupai
Guest

Keren banget Bu Tami ini, semoga sukses terus dengan Bank Sampah dan Akademi Komposnya. Luar biasa sih udah ngolah berton-ton sampah. Semoga kita semua juga bisa kaya Bu Tami, terus menebar kebaikan dalam tiap yang kita kerjakan ya Mbak 🙏.

Suzannita
Guest

Iya setuju harus menjadi contoh terlebih dahulu ya biar bisa memberikan inspirasi ya

Hanni Handayani
Guest
Hanni Handayani

klo liat ijo ijo seperti ini ga tahan,,,mau dong mba diajak kesini pengen liat tanamannya