Sanggupkah Medsos Menjadi Tonggak Toleransi Beragama ?

Beberapa waktu lalu, media social digemparkan oleh peristiwa berjudul  “Warteg vs Satpol PP”. Peristiwa heboh itu berawal dari seorang pemilik warteg bernama Ibu Saeni yang membuka warung makannya pada siang hari. Berdasarkan Perda di daerah tersebut—Serang, tidak diijinkan bagi rumah makan beroperasi di siang hari selama bulan puasa. Alhasil, karena ada pelanggaran Perda maka Satpol PP, yang merupakan aparat pemda setempat bertindak dengan mengobrak abrik warung makan. Kejadian itu mungkin nggak akan heboh jika saja Ibu Saeni membuka warung makannya tidak pada bulan puasa. Ya, bulan di mana umat muslim sedang menjalankan ibadah wajibnya yaitu berpuasa sehari penuh, menahan segala nafsu termasuk lapar dan haus. Lepas ada atau tidak adanya Perda yang mengatur tentang pelarangan membuka warung makan pada siang hari selama bulan puasa, toh nyatanya bulan suci sudah ternodai.

kompas tv
Foto dokumen Kompas TV

Peristiwa tersebut menjadi tambah pelik karena campur tangan netizen. Bahkan menjadi semakin berkembang, netizen pun jadi terbelah ada yang pro dan kontra. Masing-masing mempertahankan bahwa dirinyalah yang benar. Media social benar-benar riuh hanya gara-gara warteg yang notabene warung makan sederhana. Ini bukan kisah fiksi atau cerita pengantar tidur. Ini realita dalam kehidupan beragama, bukan itu saja ada bumbu keragaman di sana. Keragaman beragama di bumi Nusantara, di mana kita mengenal lebih dari satu keyakinan dan Islam menjadi keyakinan mayoritas penduduknya.

Berpuluh tahun silam, gaung toleransi beragama di bumi Nusantara ini nyaring terdengar. Tak ada konflik berarti apalagi hanya dipicu oleh warteg. Masing-masing pemeluknya hidup rukun dan berdampingan. Dan berpuluh tahun lalu itu belum tersentuh oleh dunia lain bernama media social alias medsos. Semua urusan yang berkaitan dengan rasa ketersinggungan selesai dengan rapih tanpa dibesar-besarkan. Aturan dalam tiap daerah atau lingkungan mendapat sambutan baik dari mereka yang tidak merayakan. Misalnya, saat Idul Fitri, umat Nasrani memberikan lahan parkir di halaman gerejanya begitu sebaliknya.

Perayaan Nyepi di Bali juga dihormati oleh semua elemen, termasuk bandara Ngurah Rai yang berhenti beroperasi selama Nyepi berlangsung. Tanpa ada yang mempersoalkan berapa kerugian ekonomi dalam sehari dengan meniadakan penerbangan. Begitu seterusnya hingga internet datang yang kemudian mengenalkan dunia medsosnya. Medsos yang digadang-gadang bisa mendekatkan yang jauh dengan segala kecanggihannya. Namun kenyataannya sangat bertolak belakang dengan dunia offline. Medsos tidak bisa menjamin semua itu berjalan dengan baik, akan tetapi sebaliknya menambah semakin runyam saja. Salah satu contohnya kasus warteg yang terjadi saat umat muslim Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa.

Sepengetahuan saya, ini bukan kali pertama toleransi beragama dibenturkan oleh hal-hal kecil. Masalah jadi bertambah melebar karena media social tidak beritikad baik untuk memperbaikinya. Mentang-mentang bermodalkan kecepatan jaringan semata, semua kasus langsung muncul di permukaan tanpa disaring terlebih dahulu. Kasus Ibu Saeni misalnya, setelah usut punya usut ternyata memang telah terjadi ketidak tahuan pemilik warteg tentang adanya Perda yang sudah berjalan lima tahun lebih itu. Toh nyatanya selama ini masyarakat di daerah tersebut tidak merasa keberatan dengan Perdanya, demikian pula pemeluk agama lain.

Semua saling mengerti dan memahami bahwa di bulan puasa ada pemeluk yang sedang beribadah dan butuh ketenangan. Masalah yang sangat sederhana bukan, layaknya jika kita hendak melakukan sholat di rumah sedangkan anggota keluarga lain ada yang nonton tv maka anggota keluarga itu harus mengalah dengan mengecilkan volume televisinya.

Bukan hanya di Serang dan Bali saja, sebagian besar daerah di Papua juga punya Perda yang mengatur pelarangan berjualan pada hari Minggu. Karena hari Minggu menjadi hari ibadah umat Kristiani, tentunya ini dengan maksud agar ibadah mereka tidak terganggu. Karena dunia medsos tidak sampai menjamah secara luas ke sana, sehingga banyak masyarakat daerah lain yang tidak tahu.

Sebenarnya Perda yang dikeluarkan oleh tiap daerah merupakan wujud toleransi beragama. Bukankah Perda itu sendiri lahir dari sebuah aspirasi rakyat ? Sayangnya dunia media social terlalu terburu-buru atau kecepetan dalam mengeluarkan pendapatnya. Dunia yang kerap mengeluarkan komen dan status di halaman masing-masing orang ini mengeluarkan ocehan tanpa dasar. Sebegitu cepatnya berita tersebar padahal belum melalui proses edit terlebih dahulu. Akhirnya umat terpecah belah, semua bersuara dengan ketikan jari. Media social buta membaca Perda, terlebih lagi buta terhadap masyarakat setempat.

Media social lupa dengan perasaan orang lain, menuliskan status dan  komen dengan membabi buta padahal komen atau statusnya itu tidak penting bagi orang lain. Jadi menurut saya, media social itu menjadi musibah bagi toleransi beragama di bumi Nusantara ini. Sejatinya media social yang diharapkan dapat menjaga toleransi beragama ini malah sebaliknya. Masalah sepele bisa jadi besar hanya karena tidak mengupas secara dalam. Saya bukan satu atau dua saja menemui kasus seperti ini, sudah banyak. Media social gagal menjadi jembatan toleransi beragama, semua jadi diputar balikkan.

Sepanjang yang saya tahu bahwa media social bukan menjadi media pemersatu akan tetapi justru jadi pemecah belah antar agama. Sedikit sekali dampak positif yang bisa diambil dari keberadaan media social dalam hal toleransi beragama. Jangankan untuk hal-hal yang berisfat sensitive, seperti toleransi beragama, masalah kecil saja bisa jadi besar di media social. Mengingat banyak hal yang harus diperbaiki dalam hal bermedia social, rasanya media social memang tidak layak untuk diajak bertoleransi.

Kurang dewasanya para pengguna dan termotivasi siapa cepat menyebarkan berita maka dialah yang hebat rupanya menjadi pemicu media social rapuh. Rapuh dalam segala-galanya, kecepatan jari lebih cepat dari otak. Bahkan banyak para pengguna malas membaca informasi sampai akhir sehingga kurang menyerap yang disampaikan. Ah, pokoknya banyak hal yang harus diperbaiki oleh para pengguna media social jika ingin menjadikan media social sebagai tonggak toleransi beragama. Toleransi bukan hanya menghargai saja, tapi lebih dari itu, harus bisa merukunkan juga.

Menurut saya jika ingin menjadikan media social sebagai tonggak toleransi beragama harus dilakukan sosialisasi mendalam. Perlu diterbitkan modul-modul yang mengarah pada sifat religi dan kepahaman agama mumpuni. Saya jadi ingat saat memasuki jenjang pendidikkan baru harus mengikuti penataran P4 ( Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila ), jadi semacam inilah. Setiap pelaku media social diberikan pembekalan dan menyamakan misi serta visinya. Memang sih terlihat agak complicated tapi demi sebuah kerukunan memang harus dibayar mahal.

Bicara soal toleransi beragama memang bukan sesuatu yang murah bahkan sebaliknya sangat mahal. Betapa kita ingat kejadian di Poso yang meluluh lantahkan dua kampong hanya masalah agama. Tidak cukup hanya pemukiman saja, nyawa juga jadi taruhan atas insiden tersebut. Begitu mahalnya sebuah toleransi yang harus dibayar dengan materi dan nyawa. Belajar dari semua kejadian, memang dibutuhkan kerja keras dan kekuatan baja untuk menjadikan dunia media social sebagai tonggak toleransi. Akankah semua itu dapat terwujud, mari kita bersama-sama para pengguna medsos untuk saling diam jika tidak paham, lalu hargai.

Diam bukan untuk bicara, tapi diam agar tidak tertulis status yang menambah parah situasi beragama. Kedepankan sikap menghargai antar pemeluk agama apabila ada yang sedang melakukan ibadah. Sebagaimana kita juga tahu pernah beberapa kali tempat-tempat ibadah menjadi sasaran atas kurangnya sikap toleransi beragama.

Oh ya, saat saya menulis ini semalam tepatnya tanggal 24 Juni di Gelora Bung Karno ( GBK ) Senayan, Jakarta telah terjadi insiden memalukan. Pertandingan sepak bola yang ditonton oleh belasan ribu pasang mata telah mencoreng kekhusukan ibadah puasa. Secara pribadi saya sangat menyayangkan perijinan tentang pertandingan ini diadakan pada bulan Ramadan. Bulan yang seharusnya diisi dengan kidung tilawah dan dzikir ini malah sebaliknya. Pertandingan sepak bola tersebut telah membawa mudhorot dengan meninggalnya supporter dan terjadinya perkelahian. Lagi-lagi saya mempertanyakan, di mana letak toleransi beragamanya ? Mengapa beribadah di Negara yang mayoritas penduduknya muslim semakin tidak nyaman ?

beol.asia
Foto dokumen beol.asia

Dalam hal ini saya juga mengecam mengapa ijin pertandingan itu dilegalkan ? Bukankah masih banyak pertandingan lain yang lebih bersifat Islami ? Memang sih dalam hal ini media social tidak ikut andil di dalamnya. Akan tetapi bukankah kita sedang mencoba untuk menjadikan media social sebagai tonggak toleransi beragama ? Mengapa justru sinyal negative meluncur dari pemangku kepentingan ? Sungguh, saya sampai tidak habis pikir dengan Negara ini. Satu pihak ingin agar toleransi dapat bergema kembali tapi di lain pihak justru sebaliknya.

Ah, ibadah ko dipermainkan !

Leave a Reply

4 Comments on "Sanggupkah Medsos Menjadi Tonggak Toleransi Beragama ?"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
cumilebay
Guest

Semoga kita bisa mengunakan medsoc dengan bijak dan ngak hanya ikutan latah tapi bisa menyaring segala informasi nya dengan jeli

ACADEMIC KOMUNIKASI
Guest

Menarik artikelnya, selama ini kami yang berada di jalur akademisi sedang merencakan adanya gerakan cerdas berkomunikasi lewat medsos, mohon masukan dan tambahan idenya ya 😀

wpDiscuz