Artikel Umum

Singapore Intercultural School Bonavista Inspired Learning For Inspired Futures

Pukul 8.00 tepat saya tiba di tempat lokasi acara. Setelah tanya dengan security yang ada di pos jaga, saya diarahkan menuju lobby. Sebelum masuk ke lobby saya mengisi buku tamu dan meninggalkan kartu identitas. Selanjutnya mba security memberikan saya name tag untuk dipasang di bagian depan.

Drop Off Para Student and Guest
Pintu masuk Lobby
Mengisi buku tamu dan diberi name tag

Memasuki lobby yang luas dan udara sejuk dari pendingin ruangan, mengingatkan saya pada lobby hotel. Ada sofa dengan meja tamu, resepsionist dan dua ruangan di sebelah kiri. Sekejap saya berpikir, apa saya nggak salah masuk? Dalam undangan, lokasi acara di sekolah tapi kenapa ini di hotel? Ah, daripada telat mengikuti acara saya ikuti terus petunjuk arah lokasi. Saya senyum-senyum sendiri. Berjalan mengikuti tanda panah untuk sampai ke lokasi acara. Senyum karena saya teringat seperti mencari jejak zaman Pramuka dulu.

Setelah menuruni anak tangga, barulah keliatan meja tamu yang dijaga oleh staff Blogger Perempuan. Perempuan pemilik nama Rani Novariany menyambut saya dengan ramah. Kembali saya harus isi daftar hadir dan langsung gabung dengan teman-teman lain. Setelah bersapa dengan beberapa teman dan mencicipi kudapan saya mulai cari tempat duduk. Mengeluarkan gawai, foto, lalu share ke media sosial tentang aktivitas saya hari itu. 

Yup, Jum’at 31/8 lalu saya menghadiri acara yang diadakan oleh Blogger Perempuan. Acara yang bertajuk ‘Raising Children in Digital Era’ ini menghadirkan pembicara seorang psikolog anak dan digital. Adalah Elizabeth T Santosa yang akrab dipanggil Mba Lizzie akan mengupas tuntas tentang gadget pada anak.

Elizabeth T Santosa ( IG Mba Lizzie )

Acara dimulai dengan kata sambutan dari head school Singapore Intercultural School ( SIS ) Bona Vista, Mr. John  Birch. Sebelum memberikan materi, Mba Lizzie melempar beberapa pertanyaan. “Gadget itu berbahaya nggak?”tanya Mba Lizzie sambil menatap Mom Blogger—selanjutnya saya sebut kami satu persatu.

Mba Lizzie sedang bertanya pada audiens

Beberapa dari kami mulai menjawab. Ada yang menjawab bahaya, nggak bahaya dan ragu-ragu. Saya sendiri masih berpikir antara bahaya dan tidak. Lantas saya menjawab, tergantung,”jawabku dengan suara serak. Maklum sudah hampir sebulan batuk nggak sembuh-sembuh.

Setelah semua terdiam, Mba Lizzie pun memaparkan pertanyaannya. Mba Lizzie menggambarkan gadget itu seperti pisau.

“Ibu-ibu tahu pisau? Boleh nggak kita memberikan pisau pada anak-anak?”tanya Mba Lizzie lagi. Kami menggeleng? “Kenapa? Lalu…serempak kami menjawab,”Bahayaaaa….”

“Nah, kenapa kalau pisau nggak boleh tapi kalau gadget boleh? Padahal sama-sama bahaya lho. Jawabnya, kalau gadget bahayanya nggak keliatan sedangkan pisau keliatan. Betul nggak?”jelas Mba Lizzie panjang lebar.

“Betuuuuuullll,”jawab kami kompak. Lebih lanjut Mba Lizzie menjelaskan, apa benar memberikan gadget pada anak itu bahaya? Sebenarnya gadget tidak bahaya pada anak. Hanya saja sebagai Orang Tua, terutama Ibu harus bisa mengarahkan. Gadget itu nggak jauh beda ko dengen televise sama-sama visual. Kalau saya lihat malah sebaliknya, para Bunda melarang anaknya main gadget tapi Bundanya sendiri maniak gadget. Di sinilah permasalahannya, melarang tapi dia sendiri melakukan.

Mom Blogger asyik menyimak

Sampai pada penjelasan ini, kami semua terdiam. Entah membenarkan atau banyak alasan-alasan. Saya sendiri membenarkan apa yang dikatakan Mba Lizzie. Bukankah anak masih memiliki pola meniru? Lebih jauh lagi Mba Lizzie mengatakan, bahkan beberapa Orang Tua juga memberikan hukuman pada anak jika si anak terus-terusan main gadget. Padahal, sudah bukan zamannya lagi Orang Tua memberikan hukuman. Jadi, dalam hal apapun jangan menghukum anak. Yang seharusnya dilakukan adalah beri konsekuensi. Konsekuensi yang diberikan juga harus positif, misal : menyapu, membereskan tempat tidur dan sebagainya.

Waktu terus berjalan, talkshow semakin seru karena banyak pertanyaan dari kami. Hal itu juga dikarenakan Mba Lizzie pandai menggiring kami untuk aktif. Kami yang tadinya malu-malu bertanya sekarang malah sangat antusias. Beberapa pertanyaan yang sempet saya rangkum yaitu :

Dari Mom Blogger Ovy Yanti, dia menanyakan pola asuh yang berbeda dengan suami. Ketika dia melarang anak bermain gadget atau nonton TV, si anak malah menangis. Kondisi ini tidak didukung oleh suami. Suami justru sebaliknya yaitu memberi anak kebebasan bermain. Pemecahan dari Mba Lizzie, memang sebaiknya kedua orang tua harus kompak dalam mendidik anak. Bahkan pada kesempatan itu Mba Lizzie langsung mengatakan pada suami Mom Ovy dengan cara  merekam pembicaraannya.  

Sayang karena waktunya terbatas, tidak semua pertanyaan  dijawab.

Pada menit-menit terakhir, Mba Lizzie mengatakan tentang bahaya utama memakai gadget. Apa yang diungkapkan Mba Lizzie membuat kami tersentak. Ternyata sangkaan kami selama ini salah. Bahaya utama dari gadget adalah pornografi. Bahkan bahaya pornografi ini melebihi bahaya pecandu narkoba. “Astagfirulloh al adziim,”pekikku dalam hati.

Apa yang saya kira selama ini salah. Saya kira anak yang sudah teradiksi oleh gadget akan bodoh dan tidak peduli. Nyatanya bukan kedua hal itu tapi hal lain. Pasalnya jika anak sudah melihat tayangan pornografi maka akan sulit dihapus. Memorinya akan terus diingat sepanjang hidup. “Duh! Kalau begitu saya harus lebih serius lagi mengawasi anak ketika sedang bermain game dengan gadget. Akhir dari sharing ilmunya, Mba Lizzie memberikan cindera mata kepada Mr. John  Birch  berupa buku yang ditulisnya. 

Pemberian cindera mata dari Mba Lizzie

Acara belum selesai, sebelum Mba Lizzie meninggalkan ruangan beliau meminta pembicara lain untuk maju. Adalah Mba Monika perwakilan dari SIS Bona Vista akan memberikan info seputar sekolah. Setelah memperkenalkan diri Mba Monika menjelaskan secara singkat SIS Bona Vista. Berikut pemaparannya…

Pemaparan dari Mba Monika

Sejak awal berdiri SIS memiliki misi untuk memicu rasa ingin tahu atau belajar menggali inspirasi-inspirasi dari anak didik. Di mana inspirasi tersebut sebagai bekal cita-cita mereka kelak.  Saat ini anak didik yang belajar di SIS mayoritas berasal dari ekspatriat, yaitu sebanyak 70%. Mengapa mayoritas anak ekspatriat? Itu menjadi salah satu alasan berdirinya SIS. Mengingat 18 tahun lalu banyak ekspatriat yang bekerja di Indonesia dengan membawa serta keluarganya. Dan mereka merasa kesulitan mencari sekolah buat anak-anak mereka. Lalu, beberapa pebisnis Jakarta menemukan jalan keluar dengan mendirikan Singapore School.

Selanjutnya Mba Monika menjelaskan, tentang apa yang mereka ajarkan. Perlu diketahui, SIS memiliki peraturan wajib bagi anak didiknya yaitu menggunakan 3 bahasa. Bahasa yang biasa digunakan dalam penyampaian materi yaitu Bahasa Inggris. Ada pula pelajaran Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.

Masing-masing memiliki fungsi berbeda. Adapun Bahasa Mandarin karena mayoritas anak didik SIS berasal dari negri dengan Bahasa Mandarin seperti Korea, Singapore dan China. Bahasa Indonesia sebagai syarat karena mereka berada di wilayah Negara Republik Indonesia. Selain bahasa Indonesia, ada mata pelajaran yang juga harus diajarkan yaitu Agama dan PPKN. Ada 4 jenjang akademik di SIS, yaitu : Preschool, Primary, Secondary dan Junior Collage. 

Mba Monika

“Lalu soal kurikulum, SIS mengadaptasi tiga kurikulum yaitu International Baccalaureate ( IB ), Cambridge dan Singapore,”kata Mba Monika penuh senyum. Oh ya, guru-guru yang mengajar di sini tidak sekedar mengajar lho. Mereka juga membimbing, membangun karakter dan menggali inspirasi anak didik. Intinya SIS lebih fokus mengasah ketrampilan demi mencapai cita-cita anak di masa depan,”tambah Mba Monika lagi.  

Masih penjelasan dari Mba Monika, kali ini tentang jadwal sekolah tiap harinya. “Anak didik datang antara jam 7.00 – 7.30. Mereka tidak langsung masuk kelas, tapi pergi ke perpustakaan hingga sekolah dimulai pada pukul 7.30. Pukul 7.30 – 8.00 anak didik sudah berada di kelas dengan guru masing-masing. Pelajaran utama akan dimulai pukul 8.00,”demikian katanya.

Adapun waktu istirahat diberikan dua kali. Istirahat pertama pada jam 9.00 selama 15 menit. Lalu istirahat kedua pada jam  11.15 untuk makan siang. Istirahat kedua 45 menit. Kemudian, pelajaran dilanjutkan hingga jam 14.45 sore. SIS juga memiliki program CCA, semacam ekstrakurikuler. Tiap anak didik mengambil jadwal dua kali seminggu, dimulai pada jam 14.50 – 15.50 sore,”lanjut Mba Monika lagi.

Setelah Mba Monika menjelaskan panjang lebar, tibalah saat sesi pertanyaan. Salah seorang Mom Blogger menanyakan soal mata pelajaran Agama, khususnya bagi anak didik muslim. “SIS memiliki mata pelajaran lima agama yang diakui di Indonesia,”jawab Mba Monika masih dengan senyum khasnya.   

Mba Monika juga memberitahukan kalau mulai sekarang SIS Bona Vista sudah membuka pendaftaran anak didik baru untuk tahun ajaran 2018 – 2019. Dan, bagi mereka yang mendaftar diawal akan mendapatkan harga khusus. 

Hari ini benar-benar sarat dengan informasi dan ilmu, semuanya penting buat masa depan anak. Setelah Mba Monika menjelaskan semua, acara belum usai juga. Ternyata, acara berikutnya adalah school tour. Kami akan diajak berkeliling sekolah untuk melihat-lihat semua fasilitas yang ada.

Oh ya, sebelum berkeliling Mba Monika juga sempet menjelaskan soal perubahan kata ‘Internasional’ menjadi ‘Intercultural’. Perubahan nama itu mengikuti peraturan dari Kementrian Pendidikan dan Budaya RI. Nah, jadi harus diingat nih namanya bukan Singapore International School lagi yak.

Sekarang tiba saatnya berkeliling sekolah. Karena Mom Blogger yang datang cukup banyak, maka dibagi menjadi  dua grup.  Satu grup  dengan  Mba Lidia dan  satu lagi dengan  Mba Monika. Saya kebagian grup dengan  Mba  Monika  sebagai team  leadernya.  Anak didik  di sini  biasa  memanggil  mereka  Ms.( dibaca miss ).

Tempat yang pertama kali dikunjungi adalah laboratorium Biologi. Dari situ menuju Laboratorium Fisika dan Laboratorium Kimia. Sambil terus berjalan, Mba Monika tidak berhenti menerangkan tempat-tempat yang dikunjungi. Ada Laboratorium IT atau Komputer, kami juga melihat beberapa ruang kelas belajar.

Salah satu ruang kelas
Lab Komputer

Sesekali, kami berpapasan dengan beberapa anak didik yang baru saja selesai olahraga. Fasilitas lain yang kami kunjungi adalah :

  • Gym
  • Theatre

  • Taman bermain

  • Lapangan olah raga

  • Kantin

  • Perpustakaan

  • Ruang seni dan ketrampilan

Perpustakaan
Lapangan Olah Raga
Gym

Sungguh, sebuah tur yang menyenangkan. Sebab perjalanan dari satu ruangan ke ruangan lain kami disuguhkan dengan panorama hasil karya anak didik. Saya melihat tidak ada dinding kosong, semuanya diisi dengan hasil karya. Saya dibuat terpana dengan kreativitas tingkat tinggi. Sadar kalau semua karya seni itu dibuat oleh anak-anak berusia maksimal 18 tahun.

Hasil karya anak didik yang ditempel di dinding

Dan, yang bikin tambah seru semua tempat yang kami datangi spotnya cantik-cantik. Alhasil hampir di setiap tempat itu kami jadikan buat poto-poto dan siap dishare ke medsos masing-masing. Nggak apa-apalah sedikit kepo dan norak gituh, yang penting infonya tersebar kaaann…

Me

Aaah…akhirnya touring sekolah selesai, kami kembali di ruangan pertama tadi. Eitss…jangan salah, acara masih belum juga selesai lho. Masih ada satu acara lagi yang sulit dihindarkan, apalagi coba kalau bukan putu-putu bareng. Nggak afdol rasanya kalau belom poto bareng-bareng. Mau tahu keseruan putu bareng Mom Blogger yang keren dan full ilmu? Taraaaaaa…ini dia potonya…..

Nah, sekarang acara bener-bener dah selesai, kami bergegas pulang karena hari makin siang. Waah…hari ini kami merasa sangat senang karena habis diguyur ilmu dan informasi akurat. Untuk keseruan hari ini tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Blogger Perempuan. Semoga saya bisa ikut dalam keseruan acara-acara berikutnya.

Selengkapnya Tentang SIS Bona Vista

Sebenarnya informasi yang disampaikan oleh Mba Monika sudah cukup jelas. Mungkin karena waktu yang terbatas jadi masih ada yang kurang. Seperti sudah disinggung di atas SIS lahir dari kebutuhan akan sekolah buat anak-anak ekspatriat. Maka didirikanlah sekolah dengan kurikulum persis sekolah di Singapur. SIS Bona Vista merupakan sekolah yang pertama kali didirikan.  Karena memang waktu itu di Jakarta kebutuhan akan sekolah dirasa sangat mendesak. Akan tetapi makin ke sini, beberapa daerah juga membutuhkan. Lalu, berdirilah SIS di beberapa tempat, yaitu : Kelapa Gading, Pantai Indah Kapuk, Cilegon, Medan, Palembang dan Semarang.

Kelebihan yang ditawarkan oleh SIS adalah lingkungan sekolah yang sudah seperti keluarga. Dengan begitu anak didik akan merasa aman dan nyaman dalam menerima pelajaran. Selain kemampuan dalam bidang akademik anak didik juga diperkaya dengan bahasa dan seni. Semua ini merangsang sistem motorik anak secara global. Para guru tidak hanya menunjukkan jalan pada anak didik tapi juga berjalan di samping mereka.

Untuk mencapai apa yang sudah dimisikan, SIS akan memberikan  5 kelebihan  yaitu : 

  1. Respect ( Menghormati )

  2. Integrity ( Integritas )

  3. Innovation ( Inovasi )

  4. Perseverance ( Ketekunan )

  5. Collaboration ( Berkolaborasi )

Kelima kelebihan itulah yang mendorong SIS mampu dan sanggup melahirkan anak didik berwawasan dunia. Karena dalam pandangannya, anak harus mampu mandiri di manapun mereka berada. Untuk jenjang pendidikan, SIS mempunyai 4 jenjang, yaitu :

  • Preschool

Setiap anak adalah individu yang unik, oleh sebab itu anak harus dihargai, didengarkan, dihormati, dicintai dan dirawat. Kerangka awal yang akan diberikan yaitu : membangun landasan bagi anak untuk mencapai hasil pendidikan yang baik. Adapun kurikulum yang diterapkan pada jenjang Preschool adalah Singapore Curriculum. Mengapa? Karena kurikulum Singapura ini bertujuan agar anak pada usia dini sudah dapat diharapkan menemukan bakatnya sendiri. Berikut sapa dari Margie Soemakno — head  teacher Preschool SIS Bona Vista :

  • Primary

Jenjang Primary kalau di Indonesia setingkat Sekolah Dasar, usia anak 9 – 12 tahun. Kurikulum yang digunakan adalah Singapura dan Cambridge. Cambridge International Examinations merupakan penyedia program pendidikan dan kualifikasi Internasional terbesar di dunia untuk anak usia 5 – 19 tahun. Kolaborasi antara kurikulum utama dan Singapura ini akan fokus terhadap 3 domain pembelajaran. Sehingga diharapkan anak didik memiliki kecakapan hidup, ketrampilan pengetahuan dan pembelajaran subjek.

  • Secondary

Secondary merupakan jenjang pendidikan untuk anak usia 13 – 16 tahun. Secondary sama dengan sekolah menengah pertama atau atas. Gabungan dua kurikulum Singapura dan Cambridge mengajarkan anak cepat akrab dengan berbagai pengalaman. 

  • Junior College

Jenjang pendidikan terakhir yang ada di SIS Bona Vista adalah Junior College. Adapun kurikulum yang diterapkan pada jenjang ini yaitu IB Diploma. Program IB Diploma adalah program pendidikan yang menantang dan seimbang. Adapun kelompok  usia anak 16 – 19 tahun sudah bisa masuk ke dalam Junior College. Anak pada usia tersebut diharapkan bisa menyelesaikan pendidikan akademisnya. Dengan mengikuti ujian akhir mereka bisa sukses di Universitas dan mencapai tujuan kariernya. Selain itu, kurikulum ini juga dirancang untuk mengatasi kecerdasan intelektual, sosial, emosi dan fisik. Sehingga anak dapat memperoleh kehidupan masa depannya dengan baik. Tercapai segala cita-citanya dan pandai beradaptasi dengan siapapun.

Melihat dan mendengarkan sendiri bagaimana komitmen SIS Bona Vista dalam menjalankan pendidikan saya sangat bergairah. Semua dijalani dengan serius dan konsisten karena ini menyangkut masa depan seorang anak. Sejatinya begitulah seharusnya sebuah pendidikan, bukan darimana kurikulum itu didapat. Akan tetapi bagaimana semua hal itu bisa dicapai. Pendidikan memang bukan sebuah ladang uji coba akan tetapi kegiatan yang menentukan nasib seorang manusia.  

Simple dan konsisten

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of