Suamiku Penderita Asma Akut

Fiks, Papieh—panggilan saya ke suami penderita asma akut ! Asmanya bukan sehari dua hari atau seminggu dua minggu tapi lima tahun. Selama 5 tahun itu pula Papieh berteman dengan asma. Asma bukan teman biasa, tapi juga bukan teman luar biasa. Sejak diturunkan dari sang Ibu, Papieh tidak bisa menolak kehadiran asma. Namun bukan berarti diterima juga. Walau bagaimanapun asma harus diobati, meskipun banyak yang bilang kalau asma susah sembuh. Yah…paling tidak diminimalkan agar jangan kambuh terus-terusan.

Miris, kiranya kata itulah yang tepat saya gambarkan kalau asma Papieh kambuh. Kalau lagi kambuh susah napas, muka  pucat ditambah lagi bunyi ngik ngik ngik. Mau manggil saya aja suaranya hilang. Biasanya saya langsung memasak air panas dan menetesinya dengan minyak ekaliptus. Maksudnya supaya ada aroma hangat, kemudian di dekatkan ke hidung. Papieh langsung menghirup uap air panas semampunya. Asal tau aja, penderita asma nggak bisa menarik napas dalam-dalam.

Nggak cukup hanya itu, saya mengolesi dada dan punggung Papieh dengan balsem. Selain dada dan punggung, ujung jari kaki juga diolesi supaya hangat. Rasanya semua sudah cukup, emang sih terasa leganya agak lama tapi lumayanlah bisa mengurangi sesak.

Tahun pertama dan kedua asma Papieh belum cukup berat, artinya durasi kambuh masih jarang. Memasuki tahun ke tiga sudah mulai sering, apalagi kalau kena batuk. Jadi kalau Papieh batuk otomatis asmanya kambuh. Sebagai istri saya  sangat menjaga agar Papieh tidak kena batuk. Tapi namanya juga penyakit datengnya kan tiba-tiba.

Pernah setahun yang lalu Papieh kambuh pas tengah malam, kira-kira jam 1.30. Kontan  saya langsung kalang kabut, seperti biasa pertolongan pertama diberikan. Sayangnya semua bantuan yang biasa dilakukan nggak mempan termasuk memberinya inhaler. Papieh masih sesak, malahan sesaknya semakin memburu. Suaranya bukan ngik ngik ngik lagi tapi sudah menyembur. Bibirnya gemetar, keringet dingin mulai keluar, posisi apapun salah.

Tanpa pikir panjang saya membawa Papieh ke IGD rumah sakit. Sesampainya di IGD Papieh langsung dipasang oksigen. Belum sepuluh menit Papieh mengangkat tangan, sebagai tanda napasnya masih sesak. Ya, Papieh sudah tidak bisa bersuara karena sesak. Tak lama kemudian dokter datang, memeriksa paru-paru dengan stetoskop. Dokter menyuruh perawat untuk memasang inhalasi.

Saya yang terus menerus mendampingi Papieh cuma bisa berdoa, sambil memperhatikan perawat memasang inhalasi. Ada tiga macam obat yang dimasukkan ke dalam tabung kecil sebelum mesin dijalankan. Setelah memasang masker ke hidung Papieh, baru alatnya dinyalakan. Bunyi mesinnya sedikit berisik. Ah, nggak apa-apa lah yang penting napas Papieh  bisa lega.

Cuma 15 menit, perawat kembali datang melepas alat inhalasi dan masker.  Sayangnya, setelah inhalasi Papieh masih juga sesak. Perawat memanggil dokter, Papieh kembali diperiksa. Langkah selanjutnya dijalankan, Papieh harus mendapat suntikan dan infus.

Ya…Allah kenapa  malah jadi begini ?”tanyaku dalam hati.

Melihat kondisi Papieh makin lemah, saya mulai menangis. Sedih. Mata Papieh mulai tertutup, tapi mulutnya terbuka. Badannya juga mulai dingin, bukan karena ruangan IGD yang dingin tapi suhu tubuhnya. Air mata saya mulai meleleh bahkan saya sudah mulai terisak. Selang infus sudah terpasang dan obat juga sudah disuntikkan. Oksigen kembali dipasang.

Kata dokter, kalau sesaknya belum reda kemungkinan Papieh harus dirawat intensif. Perkataan dokter membuat tubuh saya lemas, saya memegang tangan Papieh. Masih dingin. Kali ini Papieh benar-benar tak berdaya. Buktinya genggaman tangan saya nggak dibalas. Papieh tak bereaksi. Nggak seperti biasanya.

Benar saja, sampai infus habis kondisi Papieh tidak menunjukkan perubahan. Bahkan sebaliknya semakin melemah. Papieh memang tidak seperti awal sesak, banyak bergerak dan berontak. Sekarang Papieh malah tertidur dadanya turun naik, napasnya dibantu dengan oksigen. Saya mulai cemas melihat kondisi Papieh. Dokter kembali memeriksa kondisi Papieh. Dan  dokterpun memutuskan bahwa Papieh harus dirawat di ICU !

Deg…!

Jujur, keputusan dokter bukan hanya membuat saya lemas tapi sedih dan takut. Selama menikah baru kali ini saya merasa akan kehilangan Papieh. Sambil terisak saya bilang ke dokter,”Tolong suami saya…dok.”

Sembilan hari Papieh dirawat, 4 hari di ICU dan 5 hari di ruang perawatan biasa. Segala macam tindakan dilakukan. Mulai dari periksa darah, air seni dan tak kalah penting rontgen paru-paru. Alhamdulilah, dari hari ke hari kondisi Papieh semakin baik. Dan pada hari kesepuluh Papieh sudah diperbolehkan pulang. Lega rasanya hati ini. Masa-masa sulit sudah terlewati.

Karena waktu dirawat di ICU saya tidak bisa bebas ketemu dokter, jadi pas di ruang rawat biasa saya langsung bertanya. Kenapa asma Papieh bisa separah itu. Terus terang saya baru tau kalau serangan asma bisa sedahsyat itu. Begini penjelasan dokter….

Asma Papieh  sudah tergolong akut karena akumulasi waktu. Mungkin pada awalnya hanya dianggap biasa jadi nggak terlalu diperhatikan.  Padahal asma itu harus mendapat perawatan intensif dengan obat dan terapi. Selain asma, ditemukan juga ada  infeksi di paru-paru. Nah, dua faktor itulah penyebab asma Papieh akut. Saya dengarkan semua penjelasan dokter.

“Astagfirulloh…pantesan aja obat dan inhaler nggak mempan,”ujarku dalam hati.

Dokter menjelaskan panjang lebar, selain itu saya juga menanyakan soal pecetusnya. Jawaban dokter bisa macam-macam, misalnya bisa debu, cuaca dingin, asap rokok, stress, faktor umur dan sebagainya.

Sejak kepulangan Papieh dari rumah sakit, saya nggak mau lagi teledor dengan  pencetus asma. Selain obat-obatan, Papieh juga harus menjalani terapi 6 kali setiap hari di rumah sakit yang sama. Terapinya ada dua macam, inhalasi dan pemanasan dengan menggunakan sinar infra red pada bagian dada dan punggung.

Kamipun ke rumah sakit setiap hari untuk terapi. Bolak balik ke rumah sakit cukup membuat repot, terutama Papieh. Papieh jadi lebih banyak bergerak.  Padahal seharusnya Papieh harus banyak istirahat dan nggak boleh capek, karena  bisa membuat asmanya kambuh. Dilema pastinya, tapi mau gimana lagi. Mau nggak mau Papieh harus menjalani terapi. Kalau nggak terapi percuma aja. Obat-obatan yang diminum jadi kurang efektif.

Setelah 6 kali terapi, selesai juga rangkaian pengobatan. Sekarang waktunya konsul ke dokter dan rontgen terakhir. Hasilnya baik, infeksi di paru-paru sudah hilang. Senang rasanya mendengar kata dokter. Pesan dari dokter yang menurut saya penting, jangan sampai terlambat lagi.

Serangan asma itu emang beda dengan serangan jantung. Kalau asma seperti orang yang naik tangga, makin lama napasnya makin berat. Jadi sebenarnya penderita asma masih punya kesempatan untuk diberikan pertolongan pertama. Pesan dokter  ini saya ingat betul-betul. Pokoknya jangan sampai terlambat lagi, karena akibatnya bisa fatal.

Sebelum ke luar ruangan saya juga tanya cara mengatasi serangan asma. Apalagi kalau serangannya pada malam hari, seperti kemarin. Saya bener-bener kalang kabut. Dokter menyarankan supaya punya alat inhalasi sendiri di rumah. Jadi, kalau sudah terasa sesak langsung  diinhalasi, jangan tunggu sampai lama. Paling tidak napasnya longgar dulu, kalau punya  obat baru deh boleh diminum. Atau jika napasnya sudah longgar nggak perlu minum obat lagi.

Sebenarnya Papieh nggak sendirian menjadi penderita asma. Berdasarkan data dari WHO ada sekitar 235 juta penduduk dunia yang teridentifikasi kena asma dan 64 juta orang kena COPD. Dan jutaan orang lainnya menderita penyakit pernapasan kronis.

Asma itu kan  penyakit gangguan pernapasan. Makanya supaya napasnya longgar perlu dibantu dengan alat khusus. Nama alatnya nebulizer, alat ini mudah dipakai dan bisa dibeli di toko khusus menjual perlengkapan rumah sakit. Nebulizer merupakan alat bantu untuk memperlancar jalan napas bagi penderita asma. Alat ini fungsinya mengubah obat cair menjadi aerosol agar mudah dihirup dan sampai ke sasaran dengan cepat. Nah, aerosol yang sudah berubah jadi uap  lalu dihirup dengan menggunakan mouthpiece atau masker.

Dan keesokan harinya saya langsung mencari nebulizer di online shop. Karena saya sudah biasa belanja di online shop jadi nggak perlu susah payah ke  offline shop. Lagipula saya juga belum bisa pergi ke luar rumah. Saya  harus terus mendampingi Papieh pasca rawat inap. Nggak perlu waktu lama saya sudah menemukan nebulizer dan langsung membelinya. Berapa hari kemudian nebulizer yang dipesanpun datang.

Nebulizer yang saya beli merknya OMRON type NE-C28. Mengapa harus OMRON?

Di rumah sakit tempat Papieh dirawat, saya banyak melihat papan informasi kesehatan yang ditempel di dinding. Disetiap papan informasi selalu ada tulisan OMRON di bagian bawahnya.  Bahkan ada beberapa alat yang dipakai di rumah sakit tersebut menggunakan merk OMRON. Begitupula kalau saya menghadiri seminar tentang kesehatan, selalu ada stand OMRON yang memerkan produknya. Dari situlah saya tahu kalau OMRON adalah sebuah brand khusus menyediakan alat-alat kesehatan. Sebut saja ada alat pengukur tensi darah dan suhu tubuh yang semuanya berbentuk digital.Dengan begitu bisa dipastikan kalau hasilnya lebih akurat.

OMRON Healthcare merupakan perusahaan berbasis kesehatan yang berpusat di Kyoto, Jepang. Melihat semakin bertambahnya orang di dunia yang terinfeksi saluran pernapasan, maka OMRON mengeluarkan produk bernama nebulizer. Salah satu misi yang diemban oleh perusahaan ini yaitu dapat mewujudkan kehidupan sehat dan nyaman bagi semua penduduk dunia.  Dari situlah lahir produk-produk kesehatan terkemuka.  Omron Healthcare terus berupaya untuk menciptakan produk berkualitas tinggi dan akan memenuhi permintaan secara global. Nyatanya kehadirannya di Indonesia mendapat sambutan luar biasa, baik dari perusahaan sejenis maupun individu.

Jadi tanpa direkomendasikan pun saya akan pilih OMRON untuk kebutuhan alat kesehatan, salah satunya ya nebulizer ini. Nggak lama setelah beli asma Papieh kambuh, karena udara dingin. Seperti kemarin  kambuhnya juga pas tengah malam. Karena saya sudah punya nebulizer, saya langsung inhalasi Papieh. Alhamdulillah…pertolongan pertama teratasi.

Waaahhh…beneran praktis !

Setelah dipake, saya jadi tahu kelebihan lain dari OMRON Nebulizer ini yaitu :

  • Suara mesinnya halus nggak berisik sama sekali, beda banget sama yang di rumah sakit.
  • Bentuknya juga kecil dan ringan. Bisa dibawa kemana-mana, saya jadi nggak bingung kalau mau pergi sama Papieh dan harus nginep. Biasanya kalau mau nginep saya suka cari hotel yang deket sama rumah sakit. Maksudnya kalau Papieh kambuh asmanya bisa langsung dibawa ke IGD.
  • Cara pakenya juga mudah, begitu pula cara membersihkan masker dan corongnya. Tinggal rendam aja pake air hangat lalu dilap dengan menggunakan tissue atau lap kering.                                                                                                                        

Beneran praktis, nggak kayak dulu waktu belum punya OMRON Nebulizer, repotnya minta ampun. Pas kambuh malem-malem harus masak air panas hanya untuk mendapatkan uap supaya bisa dihirup. Saya juga nggak panik dan bingung karena harus bawa Papieh ke IGD. Sekarang mah sudah bisa inhalasi sendiri di rumah. Bagi saya, OMRON Nebulizer bukan sekedar alat terapi biasa tapi sebagai pertolongan pertama. Bukankah pertolongan pertama itu sangat dibutuhkan kepada setiap orang yang menderita penyakit apapun.

Bagi penderita asma seperti Papieh, napas lega sedikiiiit aja sudah jadi barang mewah. Bukan apa-apa,  asma Papieh tuh bisa kambuh sewaktu-waktu tanpa mengenal tempat dan suasana. OMRON Nebulizer benar-benar bisa diandalkan untuk terapi gangguan pernapasan.

Dari segi kepraktisan OMRON Nebulizer memang sudah nggak diragukan lagi, begitu pula kualitasnya. Selain itu saya juga mau kasih tahu soal pengiritan. Emang sih kalau Papieh sakit semua biaya ditanggung oleh perusahaan. Tapi tetep aja ada keluar biaya ini itu, seperti ongkos ke rumah sakit. Karena sesuatu hal Papieh sudah nggak bisa lagi  naik kendaraan umum.  Jadinya kami harus mengeluarkan ongkos taksi atau transportasi online. Tapi sejak punya OMRON Nebulizer nggak keluar lagi deh biaya ini itu. Lagipula kalau inhalasi di rumah bisa lebih santai, kalau di rumah sakit kan harus antri dulu, kecuali darurat banget.

Oh ya, ada kabar gembira nih beberapa waktu lalu OMRON meluncurkan nebulizer tipe terbarunya yaitu NE-C803. Kalau yang saya punya ini masih tipe lama, belinya kan dah setahun lalu. Kalau mau tahu silakan aja klik webnya yang ada di postngan ini.

OMRON Nebulizer Tipe NE-C803

Kami bersyukur banget akhirnya Papieh punya partner terbaik untuk mempermudah terapi gangguan pernapasan. Bukankah selama 5 tahun Papieh selalu ditemani oleh asma? Jadi nggak salah kan kalau sekarang Papieh punya partner alat terapi pernapasan terbaik. Pada akhirnya buat kami, OMRON Nebulizer bukan sekedar alat terapi saja tapi sudah menjadi partner karena kemanapun dan di manapun Papieh berada, OMRON Nebulizer selalu setia menemani.

 

 

Leave a Reply

14 Comments on "Suamiku Penderita Asma Akut"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
satto raji
Guest

Saya baru tau ada alat kesehatan merk Omron. Berapa harganya mbak..?

Bai Ruindra
Guest

InsyaAllah ada obatnya, semoga Papieh lekas sembuh ya mbak, salam dari Aceh 🙂

andyhardiyanti
Guest

Jadi pengen punya Omron juga nih di rumah mbak, saya sekali sekali sering sesak napas. Mungkin sisa-sisa jaman sakit TBC dulu kali ya? Walaupun sudah sembuh total, rasanya ya tetap saja tidak seperti sebelum terkena penyakit tersebut.

Lisna
Guest

Kadang kalo liat nebu ini ingin ingin ngga butuh, tapi baca ini jadi ingin ingin butuh, huhuhu.

Jun
Guest

Waaah… Keknya nih alat keren deh.

Unggulcenter
Guest

Mba ety mudah2an terbantu ya dgn omron ini. Amin..

Dudi
Guest

Semoga diberikan kesabaran dan teman aamanya cepet berlalu

wpDiscuz